IHSG Merosot ke Level 7.129, Saham Perbankan Big Cap Ramai Dilepas

Budi Santoso

IHSG Merosot ke Level 7.129, Saham Perbankan Big Cap Ramai Dilepas

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan hebat sepanjang sesi perdagangan Jumat, 24 April 2026, dengan berakhir di zona merah yang cukup dalam. Berdasarkan data bursa, indeks saham domestik tersebut terperosok hingga 3,38 persen dan mendarat di level 7.129,49. Pelemahan signifikan ini dipicu oleh gelombang aksi jual masif yang dilakukan oleh investor asing, terutama pada saham-saham dengan kapitalisasi pasar besar atau blue chip yang selama ini menjadi penopang utama bursa. Fenomena ini mencerminkan adanya kekhawatiran pasar terhadap stabilitas ekonomi makro yang membuat pemodal cenderung menarik dana mereka dari pasar ekuitas Indonesia.

Data dari RTI Business menunjukkan bahwa aksi jual bersih oleh investor asing (net foreign sell) mencapai angka yang sangat signifikan, yakni sebesar Rp 3,02 triliun di pasar reguler. Meskipun terdapat aksi beli bersih (net foreign buy) di pasar negosiasi dan tunai sebesar Rp 1,02 triliun, total akumulasi jual bersih asing di seluruh pasar tetap menembus angka Rp 2 triliun pada penutupan perdagangan. Kondisi ini memberikan tekanan psikologis bagi investor ritel domestik, mengingat aliran modal asing seringkali menjadi indikator kepercayaan terhadap prospek pertumbuhan ekonomi nasional.

Sektor perbankan menjadi sasaran utama pelepasan aset oleh pemodal luar negeri. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) tercatat sebagai saham yang paling banyak dilepas dengan nilai jual bersih mencapai Rp 2,1 triliun. Dampaknya, harga saham BBCA terkoreksi tajam sebesar 5,84 persen menuju level Rp 6.050 per lembar saham. Selain BBCA, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) juga tak luput dari tekanan dengan catatan net foreign sell sebesar Rp 655,1 miliar. Saham bank pelat merah ini tercatat melemah 2,81 persen ke posisi harga Rp 4.500 per lembar.

Baca Juga :  Perkuat Pasokan, Indonesia Impor 150 Juta Barel Minyak Asal Rusia

Laju pelemahan berlanjut pada PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) yang mencatatkan jual bersih asing senilai Rp 447,3 miliar, yang menyeret harganya turun 2,85 persen ke level Rp 3.070. Tidak hanya perbankan, sektor telekomunikasi juga tertekan di mana PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) mencatatkan jual bersih Rp 92 miliar dengan penurunan harga 2,43 persen ke posisi Rp 2.810 per lembar.

Di sisi lain, saham-saham milik konglomerat besar juga ikut terseret dalam tren penurunan ini. PT Petrosea Tbk (PTRO) milik Prajogo Pangestu mengalami koreksi dalam sebesar 9,31 persen ke level Rp 5.600 setelah asing melakukan jual bersih Rp 36,44 miliar. Sementara itu, saham Grup Bakrie seperti PT Intermedia Capital Tbk (MDIA) dan PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR) juga mencatatkan aksi jual asing masing-masing sebesar Rp 8,60 miliar dan Rp 3,86 miliar. Tekanan jual yang meluas ini menunjukkan bahwa sentimen negatif tidak hanya menyerang sektor keuangan, tetapi juga merambat ke sektor infrastruktur dan energi. Para analis menilai bahwa pelaku pasar saat ini sedang menunggu katalis positif baru untuk menahan laju koreksi IHSG lebih lanjut.

Also Read

Tinggalkan komentar