
Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, pada Jumat (22/5/2026) menunjukkan tren penguatan pada penutupan perdagangan. IHSG berhasil naik sebesar 1,10 persen, atau bertambah 67,11 poin, sehingga mencapai level 6.162,05. Penguatan ini terjadi di tengah berbagai tekanan yang masih terasa di pasar keuangan domestik.
Meskipun IHSG mampu mencatatkan kenaikan, sentimen negatif masih membayangi pasar. Sebelumnya, indeks ini sempat mengalami penurunan lebih dari 4 persen, seiring dengan pelemahan nilai tukar rupiah yang mendekati angka Rp18.000 per dolar Amerika Serikat. Kondisi ini diperparah dengan respons pasar yang cenderung negatif terhadap penetapan outlook negatif terhadap Danantara Investment Management oleh Moody’s Ratings.
Direktur Reliance Sekuritas, Reza Priyambada, menjelaskan bahwa berbagai sentimen negatif tersebut secara signifikan memengaruhi psikologi para investor. Berdasarkan pengamatannya terhadap pergerakan pasar pada sesi pertama perdagangan, terlihat adanya kecenderungan pelaku pasar untuk mengurangi risiko dengan menarik diri sementara dari pasar.
"Dari yang saya amati pada pergerakan pasar sesi pertama, tampaknya pelaku pasar merespons negatif pemberitaan tersebut. Artinya pelaku pasar bisa dikatakan tidak nyaman dengan penilaian tersebut dan memilih keluar dari pasar untuk sementara waktu ini," ujar Reza melalui pesan singkatnya pada Rabu (3/6/2026).
Reza menambahkan bahwa investor yang tetap aktif bertransaksi pun cenderung mengambil posisi jangka pendek sebagai strategi antisipasi. Langkah ini diambil sebagai persiapan apabila pasar mengalami pelemahan lebih lanjut.
"Pelaku pasar pun tampaknya juga cenderung hit and run bagi yang masih mau trading jangka pendek sebagai langkah antisipasi jika pasar turun lebih dalam lagi," imbuhnya. Strategi hit and run ini mengindikasikan adanya kehati-hatian dan upaya untuk meminimalkan kerugian dalam kondisi pasar yang masih bergejolak.
Meskipun ada sentimen negatif, penguatan IHSG pada penutupan perdagangan Jumat lalu memberikan sedikit sinyal positif. Namun, para pelaku pasar tampaknya masih perlu mencermati perkembangan lebih lanjut terkait tekanan di pasar keuangan domestik, pelemahan rupiah, dan dampaknya terhadap kepercayaan investor. Volatilitas pasar diperkirakan masih akan berlanjut, sehingga strategi investasi yang hati-hati dan berjangka pendek kemungkinan akan tetap menjadi pilihan bagi sebagian pelaku pasar. Peran analis dan lembaga keuangan dalam memberikan pandangan yang jernih akan sangat krusial untuk membantu investor menavigasi ketidakpastian ini.











