IHSG Diprediksi Capai 9.000 di 2026 Meski Dihantam Ketidakpastian Global

Budi Santoso

IHSG Diprediksi Capai 9.000 di 2026 Meski Dihantam Ketidakpastian Global

Pasar modal Indonesia masih memiliki potensi pertumbuhan signifikan di tengah tingginya ketidakpastian global. Mandiri Sekuritas memproyeksikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dapat menyentuh level 9.000 pada tahun 2026. Kresna Hutabarat, Deputy Head of Equity Research & Strategy Mandiri Sekuritas, menyatakan bahwa target IHSG tetap di angka 9.050 poin, namun mengakui adanya potensi revisi ke bawah. Hal ini disebabkan oleh tekanan margin akibat volatilitas makroekonomi yang meningkat dan lonjakan harga energi di masa depan.

Kresna menjelaskan bahwa tekanan eksternal makro memiliki dampak yang kuat terhadap pasar saham. Selain itu, masih banyak faktor domestik yang perlu dibenahi untuk meningkatkan performa pasar saham. Sepanjang tahun 2026, pasar saham Indonesia memang mengalami penurunan kinerja, tercermin dari koreksi IHSG sekitar 17-18 persen secara year to date (ytd). Kondisi ini menempatkan Indonesia pada tekanan pasar saham yang cukup parah dibandingkan negara-negara tetangga yang relatif mampu bertahan di tengah derasnya arus modal keluar.

"Memang kita akui bahwa konflik geopolitik dan tekanan ataupun lonjakan harga energi dunia membawa risiko global, memberikan tekanan makro kepada pasar saham dan juga ekspektasi pertumbuhan bisnis serta emiten pasar saham kita," ujar Kresna.

Di sisi lain, penyerapan modal global (global capital absorption) masih konsisten mengalir ke pasar negara maju (developed market) seperti Amerika Serikat, serta pasar saham lain yang memiliki emiten di sektor artificial intelligence (AI) dan teknologi. Tren ini menyebabkan pasar negara berkembang (emerging market), termasuk Indonesia, mengalami tekanan. "Jadi memang banyak arus modal global menuju emiten-emiten yang mendapatkan pertumbuhan laba dan minat investasi besar, terutama di pasar saham Amerika, Korea, dan Taiwan, yang bisnis AI dan teknologinya mencapai pertumbuhan laba dan pendapatan yang superior," jelasnya.

Baca Juga :  Target B50 Juli 2026: Sawit Unggul Kunci Sukses

Selain itu, tren investor yang cenderung melakukan risk aversion atau memarkirkan pendanaan dari aset kelas berdenominasi rupiah ke dolar AS, termasuk komoditas yang dianggap safe haven seperti emas, juga menjadi salah satu alasan pasar modal emerging market tertekan oleh jual asing yang cukup kuat.

"Kita mesti perhatikan, dalam satu hingga dua bulan terakhir, tekanan jual di pasar saham kita yang mengakibatkan performa saham secara year to date memang lebih buruk dibandingkan peers. Namun, ke depannya kita harus mencermati bahwa risiko terhadap earnings emiten-emiten, terutama IDX80 misalnya, yang diikuti investor global dan domestik harus kita akui akan mendapatkan tekanan tambahan mengingat adanya transmisi dari kenaikan harga energi dan kenaikan harga dari petrochemical derivatives," pungkasnya.

Mandiri Sekuritas menyadari tantangan yang dihadapi pasar modal Indonesia, namun tetap melihat potensi pemulihan dan pertumbuhan jangka panjang. Upaya untuk memperkuat fundamental ekonomi domestik dan menarik kembali minat investor asing akan menjadi kunci untuk mengoptimalkan potensi tersebut. Selain itu, diversifikasi sektor investasi dan fokus pada inovasi teknologi juga diharapkan dapat membantu pasar saham Indonesia bangkit dari tekanan saat ini. Dengan langkah-langkah strategis yang tepat, IHSG diharapkan dapat kembali menguat dan mencapai target yang diproyeksikan.

Also Read

Tinggalkan komentar