IHSG Anjlok 5,91 Persen ke 7.828 Akibat Sentimen MSCI dan Suku Bunga

Budi Santoso

IHSG Anjlok 5,91 Persen ke 7.828 Akibat Sentimen MSCI dan Suku Bunga

Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) mengalami guncangan hebat pada perdagangan Kamis (29/1/2026). Indeks saham domestik ini terperosok sedalam 492 poin atau ambles 5,91 persen ke level 7.828,47 pada penutupan sesi pertama. Kondisi pasar yang sangat volatil bahkan memaksa otoritas bursa melakukan penghentian sementara perdagangan atau trading halt tepat pada pukul 09.30 WIB guna meredam aksi jual masif yang terjadi sejak pembukaan pasar.

Tekanan hebat pada hari ini utamanya dipicu oleh sentimen negatif dari Morgan Stanley Capital International (MSCI). Lembaga riset global tersebut memberikan sorotan tajam yang meningkatkan kekhawatiran investor global terkait transparansi struktur kepemilikan saham di Indonesia. Isu integritas dan keterbukaan informasi emiten ini memicu aksi lepas saham besar-besaran, terutama oleh pemodal asing yang merespons negatif laporan tersebut.

Data perdagangan mencatat dominasi aksi jual yang luar biasa, di mana sebanyak 720 saham terkoreksi, hanya 65 saham yang berhasil menguat, dan 22 saham lainnya bergerak stagnan. Nilai transaksi harian melonjak tajam hingga mencapai Rp32,75 triliun, melibatkan 42,91 miliar saham yang berpindah tangan melalui 2,55 juta kali frekuensi transaksi. Meskipun sempat tertahan oleh kebijakan trading halt, IHSG hanya mampu sedikit memangkas koreksi di akhir sesi pertama tanpa keluar dari tekanan zona merah yang dalam.

Kepala Riset Phintraco Sekuritas, Ratna Lim, mengungkapkan bahwa pergerakan indeks saat ini juga sangat dipengaruhi oleh arah kebijakan moneter bank sentral negara-negara maju. Pelaku pasar global tengah mencermati pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) The Fed yang diprediksi tetap mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,5 hingga 3,75 persen. Selain itu, kebijakan dari European Central Bank (ECB) yang diproyeksikan di level 2,15 persen, serta Bank of England (BoE) di level 3,75 persen, menjadi faktor penentu stabilitas arus modal di pasar negara berkembang.

Baca Juga :  Strategi UMKM Hadapi Tekanan Biaya Produksi Lewat Ekspansi Global

Di sisi lain, pasar juga menantikan rilis data ekonomi penting dari Amerika Serikat, termasuk Produk Domestik Bruto (PDB) periode kuartal I-2026, tingkat kepercayaan konsumen, serta indeks Personal Consumption Expenditures (PCE). Ketidakpastian mengenai data inflasi di Jepang, meskipun suku bunga Bank of Japan (BoJ) diproyeksikan bertahan di 0,75 persen, turut menambah beban bagi bursa regional Asia. Dengan kombinasi tekanan transparansi domestik dan ketidakpastian moneter global, IHSG diperkirakan masih akan bergerak fluktuatif dalam upaya menguji level psikologisnya di tengah sentimen pasar yang cenderung konservatif.

Also Read

Tinggalkan komentar