IHSG Anjlok 3,46% di Tengah Pelemahan Bursa Global & Aksi Buyback Emiten

Budi Santoso

IHSG Anjlok 3,46% di Tengah Pelemahan Bursa Global & Aksi Buyback Emiten

Perdagangan saham pada Selasa (19/5) ditutup di zona merah, dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah 3,46% ke posisi 6.370,68. Koreksi ini terjadi di tengah tekanan pada mayoritas sektor dan pelemahan bursa global, termasuk indeks saham Amerika Serikat yang kompak ditutup melemah. Dow Jones turun 0,65%, S&P 500 terkoreksi 0,67%, dan Nasdaq turun 0,84%.

Meskipun IHSG mengalami penurunan signifikan, investor asing masih membukukan beli bersih sekitar Rp306,34 miliar di pasar reguler dan Rp260,12 miliar di seluruh pasar. Sektor kesehatan menjadi satu-satunya sektor yang berhasil menguat 0,55%, sementara sektor industri dasar mencatat pelemahan paling dalam hingga 7,30%.

Di tengah koreksi pasar, sejumlah saham masih mencatat penguatan, di antaranya Sejahteraraya Anugrahjaya Tbk (SRAJ) yang naik 9,06%, Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) menguat 2,12%, dan Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) yang bertambah 4,12%. Sebaliknya, tekanan terbesar datang dari Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) yang turun 14,77%, Mora Telematika Indonesia Tbk (MORA) melemah 9,51%, dan Bank Central Asia Tbk (BBCA) terkoreksi 2,86%.

Pelaku pasar kini menantikan keputusan suku bunga Bank Indonesia untuk Mei 2026. Konsensus memperkirakan BI Rate akan naik menjadi 5,00% dari sebelumnya 4,75%, seiring tekanan terhadap rupiah yang berada di kisaran Rp 17.705 per dolar AS.

Beberapa emiten mengumumkan aksi korporasi yang menarik perhatian. Delta Dunia Makmur Tbk (DOID) berencana melakukan pembelian kembali saham (buyback) dengan nilai maksimal US$6 juta atau sekitar Rp104,25 miliar dari kas internal. Perseroan menargetkan pembelian hingga 320,77 juta saham atau setara 4,36% dari modal ditempatkan dan disetor penuh. Pelaksanaan buyback akan dilakukan bertahap selama maksimal 12 bulan setelah memperoleh persetujuan pemegang saham dalam RUPS pada 24 Juni 2026.

Baca Juga :  Indonesia Tingkatkan Standar Perdagangan Global Hadapi EUDR & ESG

ABM Investama Tbk (ABMM) melaporkan laba bersih kuartal I-2026 sebesar US$14,88 juta, turun 30,39% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya, dengan pendapatan juga turun menjadi US$222,65 juta. Manajemen menyebut lonjakan harga bahan bakar minyak akibat konflik di Timur Tengah menjadi salah satu faktor yang memengaruhi operasional perusahaan. ABMM juga fokus menyelesaikan perizinan proyek PT Piranti Jaya Utama dan menargetkan tambang batu bara PT Nirmala Coal Nusantara (NCN) mulai memberikan tambahan pendapatan.

Estika Tata Tiara Tbk (BEEF) juga menyiapkan aksi buyback saham dengan nilai maksimal Rp100 miliar dari kas internal. Perseroan menargetkan pembelian kembali sekitar 333,33 juta saham atau setara 4,10% dari total saham beredar, dengan harga maksimal Rp300,60 per saham. Buyback akan dilakukan secara bertahap mulai 19 Mei 2026 hingga 18 Mei 2027.

Perlu diingat bahwa segala analisis dan rekomendasi saham dalam artikel ini bersifat informatif dan bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Keputusan investasi sepenuhnya berada di tangan masing-masing investor sesuai dengan profil risiko dan tujuan keuangan pribadi. Investasi yang bijak adalah kunci.

Also Read

Tinggalkan komentar