
Badan Energi Internasional (IEA) melaporkan bahwa konsumsi minyak global mulai menunjukkan tanda-tanda perlambatan. Fenomena ini terjadi di tengah ketegangan geopolitik yang masih membayangi Timur Tengah, serta lonjakan harga energi yang terus berlanjut. Gangguan pada jalur distribusi minyak dunia semakin memperparah situasi ini.
Direktur Eksekutif IEA, Fatih Birol, mengkonfirmasi bahwa permintaan minyak global telah menunjukkan tren penurunan dalam beberapa waktu terakhir. Ia memperingatkan bahwa tekanan terhadap konsumsi akan semakin terasa jika harga minyak terus merangkak naik. "Kami melihat permintaan minyak global sudah mulai menurun. Jika harga melonjak lebih tinggi lagi, penurunan ini akan semakin terlihat jelas," ujar Birol dalam sebuah acara yang diselenggarakan oleh Chatham House pada Kamis, 21 Mei 2026.
IEA memberikan peringatan bahwa pasar energi global berpotensi menghadapi tekanan yang lebih besar apabila Selat Hormuz, salah satu jalur krusial untuk distribusi minyak dan gas alam cair (LNG) dari kawasan Teluk Persia ke pasar internasional, belum kembali dibuka dalam beberapa pekan mendatang. Situasi ini sangat krusial mengingat Selat Hormuz memainkan peran vital dalam rantai pasok energi global.
Menurut Birol, risiko di pasar energi diperkirakan akan semakin meningkat seiring masuknya musim panas. Periode ini biasanya ditandai dengan kenaikan permintaan bahan bakar akibat musim liburan di berbagai negara. "Biasanya, permintaan dan konsumsi minyak akan melonjak. Akibatnya, stok minyak menipis, sementara tidak ada pasokan minyak baru yang keluar dari Timur Tengah," jelas Birol.
Ia menambahkan bahwa pasar global saat ini mengalami kehilangan pasokan minyak sekitar 14 juta barel per hari. Angka ini merupakan akumulasi dari gangguan distribusi dan produksi di kawasan Timur Tengah. Angka tersebut bahkan melampaui gangguan pasokan yang terjadi selama krisis minyak pada tahun 1970-an, yang kala itu mencapai sekitar 10 juta barel per hari.
Tidak hanya minyak, pasokan gas dunia pun turut merasakan tekanan yang signifikan. Hilangnya lebih dari 130 miliar meter kubik gas dari pasar global turut memperburuk keadaan. Meskipun pasar sempat ditopang oleh tingginya cadangan minyak dan pelepasan stok darurat oleh negara-negara anggota IEA, bantalan pasokan tersebut kini dinilai mulai menipis. Akibatnya, beberapa negara terpaksa melakukan penghematan konsumsi energi demi menjaga stabilitas pasokan domestik.
"Satu-satunya solusi paling penting untuk masalah ini adalah pembukaan Selat Hormuz secara penuh dan tanpa syarat," tegas Birol, menekankan urgensi pembukaan kembali jalur vital tersebut. Krisis energi global ini semakin memanas pasca-konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran, yang secara langsung memicu gangguan distribusi energi dari kawasan Teluk Persia. Dampak dari situasi ini terasa luas, mulai dari kenaikan harga minyak dan LNG, hingga peningkatan biaya logistik dan operasional industri di berbagai negara.
Gambar yang diambil dengan drone pada 14 April 2026 di Grays, Inggris, menunjukkan kapal tanker kimia dan minyak Flyoz, yang terdaftar di Malta, sedang melakukan pengiriman ke unit penyimpanan gas dan bahan bakar di Terminal Navigator. Fenomena ini menggarisbawahi pergerakan logistik energi global yang tetap berlangsung meskipun di tengah tantangan.
Sumber: Antara/Sputnik











