
Honda, produsen otomotif terkemuka Jepang, mengalami kerugian bersih sebesar 403,3 miliar yen (sekitar US$ 2,6 miliar) pada tahun fiskal 2025, sebuah pukulan finansial yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam 70 tahun terakhir. Perubahan kebijakan emisi kendaraan oleh pemerintahan Presiden AS Donald Trump menjadi biang keladi utamanya.
Pada masa pemerintahan Presiden Joe Biden, industri otomotif AS berinvestasi besar-besaran dalam pengembangan kendaraan listrik (EV) seiring dengan pengetatan aturan emisi karbon dan pemberian insentif pajak hingga US$ 7.500 bagi pembeli EV. Namun, pemerintahan Trump membatalkan peraturan emisi yang lebih ketat tersebut dan menghapus sanksi finansial bagi produsen yang melanggar.
Keputusan ini mendorong produsen mobil, termasuk Honda, untuk kembali memprioritaskan penjualan truk dan SUV bermesin bensin yang lebih menguntungkan. Sayangnya, langkah ini membuat mereka terpaksa menurunkan nilai investasi besar yang telah dikeluarkan untuk pengembangan EV.
Akibatnya, Honda melaporkan kerugian laba sebesar 1,6 triliun yen atau hampir US$ 10 miliar untuk tahun fiskal 2025. Meskipun perusahaan juga mencatat potensi keuntungan sebesar US$ 7,4 miliar, kerugian bersih tetap membayangi. Honda mengindikasikan adanya penurunan nilai tambahan pada investasi EV di tahun fiskal berjalan, namun diperkirakan tidak akan menyebabkan kerugian lagi.
Honda bukanlah satu-satunya yang terdampak. General Motors (GM) juga mencatat kerugian US$ 7,2 miliar akibat pengurangan upaya pengembangan EV. Ford mengalami kerugian lebih besar lagi sebesar US$ 17,4 miliar, sementara Stellantis melaporkan kerugian sebesar US$ 29,7 miliar.
Meskipun GM berhasil mencatat laba bersih, Ford dan Stellantis harus menelan pil pahit kerugian bersih pada tahun 2025. Namun, para produsen mobil belum sepenuhnya meninggalkan rencana EV. Peraturan emisi yang lebih ketat di Eropa, Asia, dan beberapa negara bagian AS masih menjadi pendorong pengembangan kendaraan ramah lingkungan di masa depan.











