Hilirisasi Tembaga Perkuat Industri Pertahanan Nasional

Budi Santoso

Hilirisasi Tembaga Perkuat Industri Pertahanan Nasional

Indonesia mendorong hilirisasi tembaga sebagai fondasi utama dalam memperkuat industri alat utama sistem persenjataan (alutsista) nasional. Langkah strategis ini bertujuan untuk mengurangi ketergantungan Indonesia pada impor bahan baku krusial untuk sektor pertahanan. Dengan cadangan tembaga yang signifikan, Indonesia menduduki peringkat ketujuh dunia dalam kepemilikan cadangan, namun kapasitas industri hilirnya masih tertinggal jauh, berada di peringkat ke-18 global. Kesenjangan ini terlihat jelas pada produksi produk hilir strategis seperti brass cup, bahan baku utama selongsong amunisi yang saat ini masih bergantung pada impor.

Wakil Ketua Komisi I DPR RI, Dave Laksono, menekankan posisi vital hilirisasi tembaga dalam memperkuat kemandirian industri pertahanan nasional, khususnya dalam produksi alutsista dan amunisi dalam negeri. Pengolahan tembaga secara terintegrasi dapat menjadi sumber bahan baku untuk berbagai kebutuhan pertahanan, mulai dari alutsista, amunisi, hingga teknologi pertahanan strategis. Integrasi antara sektor pertambangan dan industri pertahanan tidak hanya akan memangkas ketergantungan pada impor, tetapi juga memperkuat kedaulatan dan keamanan nasional Indonesia.

Urgensi hilirisasi ini diperkuat oleh data impor tembaga dan produk turunannya yang terus meningkat. Selama periode 2021-2025, nilai impor tembaga dan produk turunannya menunjukkan pertumbuhan rata-rata 5,11 persen per tahun, dengan peningkatan kumulatif sebesar 15,27 persen dibandingkan periode sebelumnya. Dave Laksono optimistis bahwa hilirisasi yang dijalankan secara konsisten akan membangun ekosistem pertahanan yang lebih mandiri dan berdaya saing, sejalan dengan politik luar negeri bebas aktif dan komitmen menjadikan sektor pertahanan sebagai pilar stabilitas nasional. Komisi I DPR RI akan terus mendorong sinergi antara pemerintah, BUMN, dan sektor swasta untuk memastikan hilirisasi tembaga memberikan manfaat nyata bagi industri pertahanan nasional dan mendukung pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan.

Baca Juga :  Progres Jembatan Krueng Tingkeum Aceh 40,11 Persen, Tuntas Juli 2026

Langkah konkret dalam produksi hilirisasi tembaga telah dimulai oleh Holding Industri Pertambangan MIND ID melalui PT Freeport Indonesia (PTFI). PTFI berkolaborasi dengan Holding Industri Pertahanan DEFEND ID melalui PT Pindad untuk memproduksi brass cup di Gresik. Fasilitas ini dirancang untuk memiliki kapasitas produksi 10.000 ton per tahun, yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan komponen amunisi dalam negeri.

Ke depan, MIND ID memiliki rencana ambisius untuk mengembangkan fasilitas hilirisasi lebih lanjut. Perusahaan ini berencana memproduksi batang tembaga dan kawat tembaga dengan kapasitas 300.000 ton per tahun, serta pipa tembaga dengan kapasitas 100.000 ton per tahun. Seluruh produk ini akan berbasis katoda tembaga yang dihasilkan dari produksi Freeport Indonesia. Produk-produk hilirisasi tembaga ini diproyeksikan dapat menjadi bahan baku esensial bagi berbagai industri pertahanan yang membutuhkan material berbasis tembaga. Inisiatif ini merupakan bagian dari upaya MIND ID sebagai perusahaan milik negara untuk meningkatkan nilai tambah komoditas mineral melalui hilirisasi di dalam negeri, sekaligus memperkuat rantai pasok industri pertahanan nasional dan mengurangi defisit perdagangan.

Also Read

Tinggalkan komentar