Harga Minyak di Bawah 100 Dolar AS, Saham Menguat

Budi Santoso

Harga Minyak di Bawah 100 Dolar AS, Saham Menguat

Harga minyak dunia dilaporkan turun di bawah 100 dolar AS per barel pada Senin, 25 Mei 2026, seiring dengan penguatan pasar saham. Penurunan ini dipicu oleh harapan meningkatnya kemungkinan Amerika Serikat (AS) dan Iran mencapai kesepakatan damai. Kontrak berjangka minyak mentah Brent, yang merupakan patokan harga minyak global, tercatat turun signifikan sebesar 6 persen, mencapai level 97,43 dolar AS per barel. Angka ini menandai level terendah dalam dua pekan terakhir.

Penurunan harga minyak ini terjadi di tengah optimisme bahwa kesepakatan dapat segera tercapai untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung hampir tiga bulan antara AS-Israel dan Iran. Meskipun kerangka kesepakatan telah dinegosiasikan, masih terdapat beberapa isu utama yang belum terselesaikan antara kedua belah pihak, termasuk terkait dengan blokade Iran di Selat Hormuz.

Pemerintah Iran sendiri telah mengeluarkan peringatan bahwa kesepakatan tersebut "belum akan terjadi dalam waktu dekat". Sebelumnya, penutupan de facto Selat Hormuz telah menyebabkan lonjakan harga energi secara drastis, terutama setelah AS dan Israel melancarkan serangan rudal ke Teheran pada tanggal 28 Februari.

Warren Patterson, Kepala Strategi Komoditas ING, menyatakan kepada Reuters bahwa pasar kemungkinan masih bersikap hati-hati dalam merespons perkembangan negosiasi ini. Ia mengingatkan bahwa pasar pernah berada pada tahap serupa sebelumnya, namun perundingan akhirnya mengalami kegagalan. Oleh karena itu, pasar diperkirakan akan lebih berhati-hati dan tidak bereaksi berlebihan terhadap perkembangan terbaru.

Baca Juga :  Hello Kitty x Jisoo: Kolaborasi Gemas Hadir di Jakarta

Para analis juga berpendapat bahwa bahkan jika Selat Hormuz kembali dibuka, normalisasi arus pasokan minyak diperkirakan akan memakan waktu berbulan-bulan. Selain itu, infrastruktur energi yang mengalami kerusakan di Qatar dan wilayah lainnya masih memerlukan perbaikan.

Meskipun demikian, Barclays pekan lalu mempertahankan proyeksi rata-rata harga minyak Brent untuk tahun ini pada level 100 dolar AS per barel. Namun, bank tersebut tetap menilai bahwa masih terdapat risiko harga minyak bergerak lebih tinggi di masa mendatang, mengingat kompleksitas situasi geopolitik dan pemulihan infrastruktur energi. Kilang minyak milik Pertamina di Kabupaten Karimun, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri), berpotensi terdampak oleh fluktuasi harga minyak dunia ini, meskipun dampak langsungnya akan bergantung pada berbagai faktor operasional dan pasar.

Also Read

Tinggalkan komentar