
Pasar komoditas logam mulia belakangan ini menunjukkan volatilitas yang cukup tinggi setelah mengalami pelemahan yang cukup signifikan dalam beberapa hari terakhir. Namun, angin segar mulai berembus bagi para investor dan kolektor emas karena harga komoditas ini diprediksi akan kembali menunjukkan taringnya pada pekan depan. Meskipun kenaikannya diperkirakan tidak akan terjadi secara meroket secara drastis, tren positif mulai terlihat membayangi pergerakan harga baik di pasar domestik maupun pasar internasional secara keseluruhan.
Saat ini, harga emas tercatat berada di level Rp 2.845.000 per gram setelah mengalami koreksi yang cukup dalam dari posisi sebelumnya. Berdasarkan analisis teknikal pasar, terdapat potensi penguatan yang dapat membawa harga emas merangkak naik menuju level resistensi pertama di angka Rp 2.865.000 per gram. Jika sentimen positif di pasar terus berlanjut dan daya beli masyarakat serta institusi meningkat, bukan tidak mungkin harga akan menembus level resistensi kedua yang berada di kisaran Rp 2.980.000 per gram. Pengamat mata uang dan komoditas terkemuka, Ibrahim Assuaibi, mengungkapkan bahwa meskipun ada tekanan harga sebelumnya, fundamental emas sebagai aset lindung nilai tetap sangat kokoh.
Salah satu faktor utama yang mendorong potensi kenaikan harga ini adalah langkah strategis yang diambil oleh bank sentral di berbagai belahan dunia, terutama negara-negara yang tergabung dalam aliansi ekonomi BRICS. Di tengah tren penurunan harga yang terjadi baru-baru ini, bank-bank sentral tersebut justru melihatnya sebagai peluang emas untuk memperkuat cadangan devisa mereka. Mereka memanfaatkan momentum harga rendah untuk memupuk kekayaan negara dengan cara memborong logam mulia dalam jumlah besar. Langkah ini didasari oleh proyeksi bahwa konflik geopolitik global kemungkinan besar akan berlangsung dalam jangka panjang, sehingga aset fisik seperti emas dianggap jauh lebih aman dibandingkan aset berbasis utang.
Selain faktor aksi beli masif dari bank sentral, ketegangan geopolitik yang masih membara di berbagai kawasan dunia tetap menjadi katalisator utama yang menjaga harga emas tetap kompetitif. Emas selama ini diakui secara global sebagai aset aman atau safe haven yang paling dicari ketika terjadi ketidakpastian ekonomi maupun instabilitas politik. Para investor besar cenderung mengalihkan portofolio investasi mereka ke emas guna menjaga nilai kekayaan dari ancaman inflasi yang tinggi serta fluktuasi nilai tukar mata uang yang tidak menentu.
Namun, Ibrahim juga mengingatkan agar para pelaku pasar tetap waspada terhadap potensi koreksi teknis. Jika ternyata harga emas kembali mengalami pelemahan, diprediksi penurunannya tidak akan terjadi secara signifikan atau jatuh terlalu dalam. Level dukungan atau support pertama diperkirakan berada di angka Rp 2.800.000 per gram. Apabila tekanan jual masih berlanjut, level support kedua diprediksi akan tertahan kuat di angka Rp 2.790.000 per gram. Dengan demikian, risiko kerugian yang lebih dalam relatif terbatas karena adanya minat beli yang besar di level harga bawah. Secara keseluruhan, prospek pergerakan emas untuk pekan depan tetap menjanjikan bagi para pemilik modal.











