
Pemerintah menegaskan komitmennya untuk menjaga stabilitas harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi, termasuk Pertalite dan Biosolar, di tengah gejolak nilai tukar rupiah dan kenaikan harga minyak mentah dunia. Kepastian ini disampaikan langsung oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, pada Selasa (19/5). Keputusan ini diambil untuk meringankan beban masyarakat, mengingat BBM bersubsidi merupakan kebutuhan pokok yang sangat krusial bagi aktivitas ekonomi sehari-hari.
Meski tercatat adanya lonjakan harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) yang rata-rata mencapai US$117,31 per barel pada bulan April 2026, Bahlil memastikan bahwa harga BBM bersubsidi akan tetap berada pada level yang sama hingga akhir tahun 2026. Penjelasan lebih lanjut dari Bahlil menunjukkan bahwa rata-rata harga minyak mentah Indonesia sejak Januari 2026 masih berkisar antara US$80-81 per barel, belum menyentuh ambang batas US$100 per barel yang biasanya memicu penyesuaian harga. Hal ini menjadi landasan kuat bagi pemerintah untuk mempertahankan harga BBM bersubsidi.
Dampak kenaikan harga minyak mentah global tidak terlepas dari berbagai faktor eksternal yang kompleks. Menurut Direktur Jenderal Minyak dan Gas Kementerian ESDM, Laode Sulaeman, ketegangan geopolitik di Timur Tengah, khususnya di Selat Hormuz, telah meningkatkan risiko terhadap pasokan minyak global. Insiden-insiden yang berpotensi mengganggu jalur pelayaran minyak internasional secara alami mendorong kenaikan harga minyak di pasar global. Di sisi lain, pertumbuhan ekonomi China yang impresif sebesar 5 persen pada kuartal pertama 2026 turut memberikan sentimen positif terhadap peningkatan permintaan minyak dunia, yang secara teori akan mendorong kenaikan harga.
Namun demikian, laju kenaikan harga minyak global tidak serta merta akan terus meroket. Terdapat beberapa indikator yang berpotensi menahan kenaikan harga lebih lanjut. Salah satunya adalah proyeksi penurunan permintaan minyak global pada kuartal kedua 2026 yang diperkirakan mencapai 5 juta barel per hari secara tahunan. Penurunan permintaan ini dapat menjadi penyeimbang terhadap kenaikan harga yang disebabkan oleh faktor pasokan. Selain itu, adanya kemungkinan pembukaan kembali jalur diplomasi damai antara Iran dan Amerika Serikat juga dapat memberikan sinyal positif bagi stabilitas pasar energi. Upaya-upaya diplomatik semacam ini berpotensi meredakan ketegangan geopolitik dan mengurangi ketidakpastian pasokan minyak global, sehingga dapat berkontribusi pada stabilisasi harga minyak mentah. Dengan demikian, kombinasi kebijakan pemerintah yang pro-rakyat dan faktor-faktor pasar global yang berpotensi meredam kenaikan harga, memberikan kepastian bahwa masyarakat tidak akan dibebani dengan kenaikan harga BBM bersubsidi dalam waktu dekat.











