
Penyedia solusi kendaraan listrik komersial, Kalista Group, menilai transisi kendaraan listrik (EV) untuk sektor logistik kini semakin realistis dilakukan, terutama di wilayah perkotaan dan koridor industri di Pulau Jawa. Ketersediaan infrastruktur pengisian daya hingga efisiensi biaya operasional menjadi faktor utama yang mendorong pelaku usaha mulai beralih dari kendaraan berbahan bakar fosil. Chief Executive Officer Kalista Group, Albert Aulia Ilyas, memaparkan bahwa selama empat tahun terakhir, penetrasi kendaraan listrik komersial masih di bawah satu persen, berbeda signifikan dengan mobil penumpang yang sudah mencapai 16 persen dari total pasar.
Ia mengidentifikasi enam tantangan utama yang dihadapi pelaku usaha dalam pertumbuhan EV logistik, meliputi spesifikasi kendaraan, teknologi, layanan purnajual dan perawatan, infrastruktur pengisian, kualitas kendaraan, serta tingginya belanja modal awal. Namun, Albert optimis bahwa tahun ini keenam faktor tersebut mulai teratasi. "Teknologinya makin matang, produk makin banyak, harga BBM tinggi, dan hitung-hitungan bisnisnya sudah masuk akal," ujarnya dalam diskusi bersama media dan pelaku industri logistik di Jakarta, Rabu (20/5/2026).
Sektor logistik diprediksi menjadi salah satu yang paling cepat mengadopsi EV, khususnya untuk segmen last mile dan middle mile. Model kendaraan seperti blind van hingga mini van listrik telah digunakan oleh berbagai perusahaan sejak 2021-2022. Kalista menilai ketersediaan stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU) menjadi alasan utama penggunaan EV logistik kini lebih mudah dijalankan. Di wilayah Jabodetabek hingga sebagian Pulau Jawa, infrastruktur pengisian dinilai semakin memadai untuk operasional kendaraan komersial ringan. "Kalau lima tahun lalu orang masih khawatir karena charging station sedikit dan antre. Sekarang di kota-kota besar SPKLU sudah jauh lebih banyak, sehingga operasional kendaraan listrik makin memungkinkan," jelas Albert.
Salah satu pengguna armada EV logistik, Michael Sung dari Evershine Group, mengonfirmasi potensi penghematan ini. Perusahaannya berhasil menekan biaya operasional transportasi hingga sekitar 70 persen dibandingkan penggunaan truk diesel konvensional. "Kalau dibandingkan dengan solar subsidi Rp 6.800, penghematannya sekitar 50 persen dari BBM saja. Kalau ditambah maintenance dan lain-lain, total saving bisa mendekati 70 persen," ungkap Michael, yang menggunakan jasa penyewaan armada EV dari Kalista.
Selain penghematan biaya, penggunaan kendaraan listrik juga berkontribusi signifikan dalam memangkas emisi karbon. Michael menyebutkan bahwa pengiriman rute Tangerang-Bandung mampu menurunkan emisi hingga sekitar 35-40 persen. Fenomena ini menunjukkan bahwa transisi ke kendaraan listrik tidak hanya menguntungkan secara finansial bagi pelaku logistik, tetapi juga selaras dengan upaya pelestarian lingkungan. Dengan semakin matangnya teknologi, meluasnya infrastruktur, dan semakin masuk akalnya perhitungan bisnis, era kendaraan listrik komersial di Indonesia, khususnya di sektor logistik perkotaan dan industri, tampaknya akan semakin pesat berkembang. Kalista Group optimis bahwa tren positif ini akan terus berlanjut, mendorong lebih banyak perusahaan untuk mengadopsi solusi transportasi yang lebih ramah lingkungan dan efisien.











