Emas Fluktuatif, Target Rp 2,9 Juta, Minyak Mentah Menguat

Budi Santoso

Emas Fluktuatif, Target Rp 2,9 Juta, Minyak Mentah Menguat

Harga emas diprediksi bergerak fluktuatif namun cenderung terkoreksi pada pekan terakhir Mei 2026, dengan kisaran pergerakan antara Rp 2,65 juta hingga Rp 2,9 juta per gram. Harga emas dunia ditutup pada level 4.506 dolar AS per barel, sementara logam mulia ditutup di Rp 2,77 juta per gram. Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menjelaskan bahwa level support pertama harga emas dunia berada di 4.414 dolar AS per troy ons, dan level support kedua di 4.333 dolar AS per troy ons. Untuk logam mulia, level support pertama adalah Rp 2,75 juta per gram dan level support kedua Rp 2,65 juta per gram.

Jika harga emas dunia menguat, level resistance pertama berada di 4.606 dolar AS per barel dan level resistance kedua di 4.943 dolar AS per barel. Sementara itu, level resistance pertama harga logam mulia adalah Rp 2,79 juta per gram dan level resistance kedua Rp 2,9 juta per gram. "Jadi harga logam mulia, support-nya Rp 2,65 juta per gram, resistance-nya adalah Rp 2,9 juta per gram," ujar Ibrahim.

Indeks dolar AS diperkirakan bergerak di atas 100, dengan level support 97,60 dan resistance 101. Harga minyak mentah juga diperkirakan menguat, bergerak di kisaran level support 92,60 dolar AS per barel dan level resistance 105,5 dolar AS per barel.

Baca Juga :  Trump Permudah PHK PNS Federal Bergaji Tinggi

Beberapa faktor fundamental memengaruhi fluktuasi harga emas, minyak mentah, dan indeks dolar AS. Pertama, eskalasi geopolitik di Eropa Timur antara Rusia dan Ukraina terus memanas. Serangan Ukraina terhadap wilayah Rusia, didukung persenjataan dari pihak ketiga, menunjukkan konflik yang kemungkinan besar akan berlanjut tanpa negosiasi atau gencatan senjata. Situasi ini, ditambah penguasaan Rusia atas 20 persen wilayah Ukraina, membuat perang diprediksi terus berlangsung. Serangan Ukraina yang menyasar kilang minyak Rusia juga diperkirakan akan mendorong harga minyak mentah naik.

Di Timur Tengah, ketidakpastian mengenai wacana damai antara Iran versus AS-Israel masih membayangi. Meskipun ada harapan dari nota kesepahaman yang disampaikan Presiden AS Donald Trump terkait kesepakatan damai dengan Iran, terutama pembukaan Selat Hormuz, negosiator utama Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menyatakan AS tidak jujur. Iran menuduh AS tidak menghormati hak nasionalnya terkait pengayaan uranium dan AS dikabarkan menolak nota kesepahaman tersebut. Serangan Israel terhadap Lebanon Selatan dan Jalur Gaza semakin memanaskan situasi di Timur Tengah, yang berimplikasi pada bertahaninya indeks dolar AS dan harga minyak di atas 100.

Selain itu, kebijakan Bank Sentral AS juga menjadi perhatian. Pidato Presiden The Fed Thomas Barkin mengindikasikan bahwa kebijakan saat ini sudah memadai untuk menanggapi guncangan yang terjadi, dengan ekspektasi inflasi jangka panjang tetap terkendali. Hal ini memberikan harapan bahwa Bank Sentral AS akan menurunkan suku bunga hingga akhir tahun jika inflasi jangka panjang tetap terkontrol.

Baca Juga :  PLN Batam Dukung Data Center Rp 88 T di Nongsa

Also Read

Tinggalkan komentar