Ekonomi Tumbuh, Kelas Menengah Tertekan, Konsumsi Berubah

Budi Santoso

Ekonomi Tumbuh, Kelas Menengah Tertekan, Konsumsi Berubah

Pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,61 persen pada kuartal I 2026, meskipun impresif, belum sepenuhnya mencerminkan realitas ekonomi masyarakat. Analisis Permata Institute for Economic Research (PIER) menunjukkan bahwa angka tersebut lebih banyak ditopang oleh belanja pemerintah dan faktor musiman Ramadhan-Lebaran, bukan penguatan daya beli masyarakat secara umum. Faisal Rachman, Head of Macroeconomic & Financial Market Research Permata Bank, menekankan bahwa pertumbuhan ini bersifat "fiscal driven" ketimbang "private driven", dengan belanja pemerintah yang meroket 21,81 persen secara tahunan.

Di balik statistik pertumbuhan yang positif, kelas menengah Indonesia menghadapi tekanan yang signifikan, mengubah pola konsumsi mereka. Josua Pardede, Chief Economist Permata Bank, menyoroti tren penurunan kelas menengah dalam lima tahun terakhir. Hal ini tercermin pada pasar tenaga kerja yang masih didominasi sektor informal, serta pergeseran preferensi konsumen. Adjie Harisandi, Head of Industry & Regional Research Permata Bank, mengamati fenomena peningkatan pembelian mobil bekas dibandingkan kendaraan baru, terutama di segmen menengah bawah dan entry level yang mengalami tekanan daya beli. Masyarakat kelas menengah cenderung menunda pembelian barang tahan lama, namun tetap berupaya memenuhi kebutuhan transportasi dengan beralih ke opsi yang lebih terjangkau. Hal ini terkonfirmasi dari meningkatnya pembiayaan multifinance untuk kendaraan bekas.

Menariknya, kelompok menengah atas menunjukkan tren yang berbeda, mulai beralih ke kendaraan listrik. Pembeli kendaraan listrik ini umumnya sudah memiliki kendaraan konvensional sebelumnya, mengindikasikan adanya diversifikasi dalam pengeluaran kelompok ekonomi yang lebih mapan.

Baca Juga :  Prabowo Turunkan Harga Pupuk 20% di Tengah Krisis Global

Permata juga menyoroti perlambatan sektor manufaktur yang tertekan oleh kenaikan biaya produksi dan melemahnya permintaan global, tercermin dari PMI manufaktur yang masuk zona kontraksi pada April. Tekanan global akibat konflik Timur Tengah, pelemahan rupiah, dan kenaikan harga energi berpotensi semakin menekan daya beli masyarakat di paruh kedua tahun ini.

Meskipun demikian, Permata tetap memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini berada di kisaran 5,1 hingga 5,3 persen. Inflasi diperkirakan tetap terkendali di bawah 3 persen, asalkan harga BBM subsidi tidak mengalami kenaikan. Perlu digarisbawahi bahwa daya beli masyarakat, terutama pada kelompok menengah bawah, masih menjadi perhatian utama yang memerlukan intervensi kebijakan yang tepat untuk memastikan pertumbuhan ekonomi yang inklusif. Perubahan pola konsumsi ini menjadi indikator penting bagi para pelaku ekonomi dan pembuat kebijakan dalam merumuskan strategi ke depan, dengan fokus pada pemulihan daya beli dan penguatan fundamental ekonomi dari sisi swasta.

Also Read

Tinggalkan komentar