
Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan ekonomi Indonesia mengalami kontraksi sebesar 0,77 persen secara kuartalan (qtoq) pada kuartal I 2026, jika dibandingkan dengan kuartal IV 2025. Fenomena ini terjadi meskipun pertumbuhan ekonomi secara tahunan (yoy) masih tercatat positif sebesar 5,61 persen. Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti, menjelaskan bahwa penurunan kuartalan ini utamanya dipicu oleh anjloknya komponen pengeluaran pemerintah pada awal tahun.
Menurut Amalia, konsumsi pemerintah menjadi penyumbang terbesar kontraksi tersebut, dengan penurunan mencapai 30,13 persen dibandingkan kuartal sebelumnya. "Soal penyebabnya tentunya dari sisi pengeluaran itu konsumsi pemerintah juga mengalami penurunan dibandingkan kuartal IV 2025," ungkap Amalia dalam konferensi pers pertumbuhan ekonomi di kantor BPS, Jakarta, Selasa (5/5/2026). Ia menambahkan bahwa penurunan ini lumrah terjadi karena realisasi anggaran pemerintah tahun sebelumnya cenderung memuncak pada kuartal IV.
Selain konsumsi pemerintah, ekspor barang dan jasa juga turut mengalami kontraksi signifikan sebesar 9,15 persen dibandingkan kuartal sebelumnya. Hal ini menunjukkan adanya perlambatan aktivitas perdagangan internasional yang berdampak pada perekonomian domestik.
Dari sisi produksi, Lapangan Usaha Pertambangan dan Penggalian mencatat kontraksi terdalam sebesar 8,20 persen. Penurunan ini terutama berasal dari subsektor pertambangan, batubara, serta minyak dan gas. Sektor ini merupakan salah satu tulang punggung perekonomian Indonesia, sehingga pelemahannya memiliki dampak yang cukup berarti.
Lebih lanjut, Amalia menggarisbawahi bahwa sektor konstruksi juga mengalami kontraksi dibandingkan kuartal sebelumnya. Sektor konstruksi memegang peranan penting sebagai penopang utama proyek infrastruktur dan pembangunan fisik. Namun, realisasi pekerjaan di sektor ini cenderung menumpuk pada akhir tahun anggaran. "Nah biasanya memang kalau kita bandingkan dengan sepanjang tahun, kuartal IV yang selalu paling tinggi untuk pelaksanaan pekerjaan fisik maupun pembangunan infrastruktur," jelas Amalia.
Implikasi dari kontraksi kuartalan ini perlu dicermati lebih lanjut. Meskipun pertumbuhan tahunan masih positif, perlambatan dalam konsumsi pemerintah dan ekspor, serta pelemahan di sektor pertambangan dan konstruksi, mengindikasikan adanya tantangan yang perlu diatasi dalam mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih stabil dan berkelanjutan di kuartal-kuartal mendatang. Kebijakan fiskal dan stimulus ekonomi yang tepat sasaran akan menjadi kunci untuk memulihkan momentum pertumbuhan dan menahan potensi pelemahan lebih lanjut. Analisis mendalam terhadap faktor-faktor yang menyebabkan penurunan ini akan membantu pemerintah merumuskan strategi yang efektif untuk menghadapi tantangan ekonomi di masa depan.











