DSI Kelola SDA Strategis, Targetkan Keuntungan Maksimal

Budi Santoso

DSI Kelola SDA Strategis, Targetkan Keuntungan Maksimal

PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) tidak hanya ditugaskan mengelola ekspor komoditas sumber daya alam (SDA) strategis seperti minyak kelapa sawit (CPO), batu bara, dan ferro alloy. Lebih dari itu, DSI diproyeksikan menjadi perusahaan yang berorientasi pada pencapaian keuntungan maksimal. Hal ini ditegaskan oleh Chief Investment Officer BPI Danantara, Pandu Sjahrir.

Pembentukan DSI berawal dari kekhawatiran mendalam terhadap praktik-praktik manipulatif dalam ekspor SDA yang merugikan negara, seperti under invoicing dan transfer pricing. Pandu Sjahrir menyoroti bahwa isu-isu tersebut sudah lama teridentifikasi dalam industri. Pengalamannya sebagai mantan ketua asosiasi pengusaha batu bara selama hampir sepuluh tahun memberinya pemahaman mendalam mengenai modus operandi manipulasi harga yang telah berlangsung sejak lama.

"Saya kebetulan jadi ketua asosiasi batu bara kurang lebih hampir 10 tahun. Di situ saya tahu juga, banyak yang baik, ada juga yang bandel. Dan bandelnya waktu pertama kali saya di asosiasi itu bisa dibilang 40%, tapi sekarang lebih baik," ungkap Pandu Sjahrir. Pernyataan ini mengindikasikan adanya perbaikan dalam praktik industri, namun kewaspadaan terhadap potensi kerugian negara tetap menjadi prioritas.

Awalnya, terdapat dua opsi dalam pembentukan DSI: menjadikannya sebagai badan pemerintah biasa atau sebagai operator bisnis yang aktif. Setelah melalui serangkaian diskusi mendalam, pemerintah memutuskan untuk membentuk DSI sebagai entitas bisnis yang memiliki kedudukan sejajar dengan Danantara Investment Management (DIM), yang juga berorientasi pada profit.

Baca Juga :  Kemenhub & KAI Percepat Tertibkan Perlintasan Kereta Api Demi Keselamatan

"Nah di dalam Danantara sendiri, it will be mindset-nya for profit. Balik kepada Danantara sebagai sovereign wealth fund. Memang ini tabungan buat generasi berikutnya. Jadi profit mentality itu tetap harus ada. Nah jadi minggu lalu DSI ini di bawah Danantara Investment Management, sekarang DSI ini sejajar," jelas Pandu Sjahrir. Keputusan ini menekankan pentingnya menghasilkan imbal hasil yang optimal demi keberlanjutan dan pertumbuhan aset negara untuk generasi mendatang.

Struktur kepemilikan DSI mencakup 99% saham yang dipegang oleh BPI Danantara dan 1% oleh BP BUMN. Meskipun fokus utamanya adalah profitabilitas, Pandu Sjahrir menegaskan bahwa DSI tetap terbuka terhadap berbagai peluang pengembangan di masa depan.

"Karena kebetulan di bawah Danantara, namanya DSI, ide awalnya memang menjadi suatu perusahaan dan perusahaan BUMN yang memang harus profit, for profit. Jadi awal-awalnya it becomes an agent, agent of business. Nantinya kalau ada pengembangan lain sesuai dengan skill set SDM yang ada," tutup Pandu Sjahrir. Dengan demikian, DSI diposisikan sebagai agen bisnis yang strategis, siap untuk beradaptasi dan memanfaatkan keahlian sumber daya manusia yang dimiliki untuk ekspansi dan inovasi di masa mendatang, sambil tetap menjaga prinsip kehati-hatian dalam pengelolaan SDA.

Also Read

Tinggalkan komentar