Drone Kargo HY-100 Raih Sertifikasi di Indonesia

Budi Santoso

Drone Kargo HY-100 Raih Sertifikasi di Indonesia

Teknologi pesawat tanpa awak (UAS) kini mulai merambah sektor logistik nasional, menawarkan solusi inovatif untuk tantangan distribusi di wilayah kepulauan Indonesia. Drone kargo kelas berat HY-100, yang dikembangkan oleh Ursa Aeronautical Technology Co., Ltd., telah berhasil mengantongi validasi sertifikasi di Indonesia, menandai langkah penting dalam mengintegrasikan teknologi canggih ini ke dalam ekosistem penerbangan nasional.

Proses validasi Type Certificate dilakukan oleh Direktorat Kelaikudaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara (DKPPU) Kementerian Perhubungan. Capt. Reymon Palapa, Kasubdit Operasi Pesawat Udara DKPPU, menjelaskan bahwa validasi ini bertujuan untuk memastikan bahwa teknologi UAS kelas berat dapat dioperasikan secara aman dan sesuai dengan standar nasional. "Validasi ini menjadi langkah penting dalam memastikan bahwa teknologi UAS kelas berat dapat diintegrasikan dengan ekosistem penerbangan nasional tanpa mengabaikan aspek keselamatan," ujar Capt. Reymon.

Drone HY-100 memiliki spesifikasi teknis yang mengesankan. Dengan bobot lepas landas maksimum mencapai 5,25 ton, pesawat ini mampu membawa muatan hingga 1,9 ton. Jangkauan terbangnya mencapai 1.800 kilometer dengan durasi operasi lebih dari 10 jam. Kemampuannya untuk lepas landas dari landasan pendek menjadikannya kandidat ideal untuk melayani rute perintis dan mendukung distribusi logistik di daerah terpencil yang sulit dijangkau.

Country Director PT Ursa Aero Indonesia, Tendi Febrian, menekankan bahwa teknologi HY-100 dirancang untuk mempercepat distribusi barang, terutama ke wilayah 3T (tertinggal, terdepan, terluar). "HY-100 bukan sekadar pesawat tanpa awak, melainkan solusi infrastruktur udara," kata Tendi. "Dengan sertifikasi ini, kami membawa standar keamanan tinggi untuk mendukung distribusi logistik di wilayah 3T di Indonesia secara lebih efisien."

Baca Juga :  Potensi Ekonomi Kurban 2026 Capai Rp 26,89 Triliun, Ada Pelemahan

Selain aplikasi logistik, pemanfaatan UAS seperti HY-100 juga terus dikembangkan untuk sektor-sektor vital lainnya, termasuk pertanian, penanganan bencana, dan pengawasan wilayah. Potensi luas dari teknologi ini diharapkan dapat memberikan kontribusi signifikan bagi kemajuan berbagai sektor di Indonesia.

Sebagai bagian dari komitmen untuk mendukung ekosistem logistik udara tanpa awak, PT Ursa Aero Indonesia juga tengah menyiapkan pembangunan bandara khusus UAS di Simpenan, Sukabumi, yang akan membentang seluas 43 hektare. Infrastruktur ini akan menjadi pusat operasional dan pengembangan lebih lanjut bagi teknologi UAS di Indonesia, membuka jalan bagi inovasi yang lebih besar di masa depan. Sertifikasi HY-100 ini diharapkan menjadi pemicu bagi adopsi teknologi serupa di berbagai wilayah Indonesia, meningkatkan efisiensi dan aksesibilitas layanan, serta memperkuat konektivitas antar daerah.

Also Read

Tinggalkan komentar