![]()
Anggota DPR RI Fraksi Golkar, Nurdin Halid, memberikan apresiasi tinggi atas kinerja Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia. Apresiasi ini muncul setelah Indonesia berhasil menempati posisi kedua dunia sebagai negara paling tahan terhadap gejolak energi global, berdasarkan laporan terbaru JP Morgan berjudul "Pandora’s Bog: The Global Energy Shock of 2026". Laporan tersebut secara spesifik menyoroti ketahanan Indonesia di sektor minyak dan gas. Nurdin menilai pencapaian ini merupakan hasil dari kebijakan strategis pemerintah yang dipimpin oleh Bahlil, yang dinilainya berhasil memperkuat fondasi kemandirian energi nasional.
"Ini bukan capaian yang datang tiba-tiba. Ada kerja sistematis dari hulu ke hilir yang dilakukan pemerintah. Saya melihat Menteri ESDM berhasil membaca situasi global dan menyiapkan Indonesia lebih tahan terhadap guncangan," ujar Nurdin dalam keterangannya pada Jumat (1/5/2026). Ia menekankan bahwa keberhasilan ini tidak terlepas dari tiga strategi utama yang didorong oleh pemerintah: peningkatan produksi minyak dan gas domestik, diversifikasi energi melalui program biodiesel, serta pengembangan bahan bakar alternatif seperti bioetanol.
Nurdin secara khusus menyoroti kebijakan seperti B50 dan E20 sebagai langkah konkret yang berhasil menekan ketergantungan impor energi. "Negara-negara maju justru terpukul karena terlalu bergantung pada impor. Indonesia sekarang menunjukkan arah berbeda—memanfaatkan sumber daya sendiri sebagai kekuatan utama," tegas politisi Partai Golkar tersebut. Ia juga memandang pengembangan dimethyl ether (DME) dan compressed natural gas (CNG) sebagai substitusi LPG impor sebagai keputusan strategis di tengah ketidakpastian rantai pasok global.
Laporan JP Morgan mengkonfirmasi bahwa ketahanan energi Indonesia ditopang oleh tingginya produksi batu bara domestik dan kapasitasnya sebagai eksportir utama batu bara termal dunia. Selain itu, Indonesia juga diakui sebagai salah satu produsen gas alam penting secara global.
Meskipun mengakui capaian ini, Nurdin menekankan bahwa momentum ini harus dimanfaatkan untuk mempercepat transisi energi nasional. Pengembangan energi terbarukan menjadi krusial agar ketahanan energi Indonesia tidak hanya kuat dalam jangka pendek, tetapi juga berkelanjutan. "Kita tidak boleh berhenti. Ketahanan energi harus dibarengi dengan transisi menuju energi bersih agar Indonesia tidak hanya tahan krisis, tetapi juga kompetitif di masa depan," tuturnya.
Terakhir, Nurdin berharap agar sinergi antara pemerintah, pelaku industri, dan masyarakat terus diperkuat untuk mempertahankan momentum positif ini di tengah dinamika energi global yang terus berubah.











