Chandra Asri Diversifikasi Bahan Baku Hadapi Geopolitik

Budi Santoso

Chandra Asri Diversifikasi Bahan Baku Hadapi Geopolitik

PT Chandra Asri Petrochemical Tbk. (CAP) mengambil langkah strategis untuk mengamankan pasokan bahan baku di tengah ketidakpastian geopolitik, khususnya yang berpotensi mengganggu jalur pelayaran di Selat Hormuz. Melalui kemitraan dengan Glencore, salah satu pemain utama dalam perdagangan komoditas global, CAP secara aktif mencari dan menguji sumber minyak mentah (crude) dari berbagai belahan dunia, termasuk Amerika Latin, Amerika Utara, Afrika Barat, dan Asia Tenggara. Diversifikasi ini menjadi kunci agar perusahaan tidak hanya bergantung pada jalur pasokan tradisional yang rentan terhadap gejolak.

Andre Khor, Chief Financial Officer Chandra Asri Grup, menjelaskan bahwa kemampuan perusahaan dalam memperluas jenis minyak mentah yang dapat diolah serta pengadaan globalnya memungkinkan CAP untuk mengatasi hambatan konvensional. "Gangguan geopolitik, terutama risiko eskalasi di Timur Tengah yang berdampak pada Selat Hormuz, secara historis menciptakan kecemasan dalam rantai pasok. Namun, kemampuan kami dalam perluasan jenis minyak mentah dan kemampuan pengadaan global memungkinkan perusahaan untuk melewati hambatan konvensional demi menjaga operasional tetap lancar terlepas dari volatilitas regional," ujarnya dalam keterangan tertulis.

Strategi diversifikasi ini telah terbukti efektif. Pada Februari 2026, CAP berhasil menyelesaikan uji coba teknis yang berhasil meningkatkan kapasitas produksi pabrik Butene-1 dan MTBE di Cilegon hingga 25%. Dengan mengolah minyak mentah dan produk intermediate yang kompetitif, perusahaan mampu mempertahankan tingkat utilisasi yang tinggi dan menghasilkan produk berkualitas unggul, bahkan di tengah kondisi industri petrokimia global yang menantang.

Baca Juga :  Emas Turun di Bawah Rp 3 Juta, Prediksi Pekan Depan Rp 2,75-2,9 Juta

Keberhasilan strategi ini juga tercermin dalam kinerja keuangan perusahaan. Pada Kuartal I (Q1) 2026, Chandra Asri mengumumkan rekor EBITDA kuartalan sebesar 421 juta dolar AS dan laba bersih sebesar 205 juta dolar AS. Angka ini menunjukkan lonjakan signifikan, masing-masing sebesar 1.813,6% dan 954,2% dibandingkan dengan periode yang sama di tahun sebelumnya (Q1 2025). Pertumbuhan pesat ini didorong oleh integrasi segmen energi, yang kini menjadi kontributor pendapatan terbesar dengan porsi 60% dari total pendapatan perusahaan. Pencapaian ini merupakan buah dari transformasi disiplin dan keberhasilan integrasi aset energi yang baru saja diakuisisi di Singapura.

Also Read

Tinggalkan komentar