
Anggota DPR RI sekaligus Wakil Ketua Umum KADIN Indonesia, Bambang Soesatyo (Bamsoet), menyoroti keberhasilan cerutu Indonesia, khususnya yang berasal dari Jember, dalam menembus pasar internasional. Pencapaian ini menjadi sinyal kuat bahwa Indonesia semakin diperhitungkan dalam industri cerutu dunia yang sangat kompetitif. Produk-produk BIN Cigar Jember, seperti Bamsoet Cigar, kini telah merambah pasar di 14 negara di Eropa, Amerika, Asia Timur, hingga Timur Tengah. Hal ini membuktikan bahwa Indonesia tidak lagi hanya berperan sebagai penyuplai bahan mentah, melainkan telah mampu bertransformasi menjadi produsen cerutu berkualitas tinggi dengan cita rasa yang khas.
Keunggulan utama cerutu Indonesia terletak pada kualitas tembakau Besuki Na-Oogst dari Jember, yang telah lama diakui sebagai salah satu bahan baku cerutu terbaik di dunia berkat aroma dan rasanya yang unik. Fakta ini diperkuat dengan data ekspor tembakau Jember pada tahun 2023 yang mencapai lebih dari 3 juta kilogram, menghasilkan devisa sekitar 31,9 juta dolar AS. Bamsoet menekankan bahwa kombinasi bahan baku unggul dengan keterampilan para perajin dan petani tembakau lokal menciptakan cerutu dengan karakter unik yang sulit ditiru oleh negara lain. Keunggulan komparatif ini menjadi modal berharga bagi Indonesia untuk bersaing langsung dengan negara-negara produsen cerutu ternama seperti Kuba maupun Republik Dominika.
Dalam pertemuan dengan Pemilik BIN Cigar, Febrian Ananta Kahar, dan Presiden Perikhsa Cigar Brotherhood, Charles Wicaksana, Bamsoet menjelaskan lebih lanjut mengenai diferensiasi kuat yang ditawarkan oleh cerutu Indonesia. Kualitas bahan baku yang superior, proses produksi yang masih mengandalkan sentuhan manual, serta konsistensi rasa menjadi faktor penentu keberhasilan ini. Industri cerutu juga memberikan dampak ekonomi yang signifikan karena merupakan industri padat karya, menyerap banyak tenaga kerja mulai dari petani tembakau hingga pengrajin linting.
Dukungan kebijakan pemerintah, seperti menjaga stabilitas industri tembakau dan keputusan untuk tidak menaikkan cukai pada tahun 2026 demi melindungi lapangan kerja, turut memberikan ruang bagi industri ini untuk berkembang pesat. Bamsoet melihat industri cerutu sebagai bagian penting dari strategi hilirisasi nasional, bukan sekadar industri tembakau biasa, mengingat kemampuannya menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar dan memberikan nilai tambah yang tinggi.
Lebih jauh, Bamsoet menekankan pentingnya strategi jangka panjang untuk memposisikan Indonesia sebagai pemain utama di industri cerutu global. Penguatan branding, standardisasi kualitas produk yang konsisten, serta ekspansi pasar yang masif harus dilakukan secara simultan. Dengan menjaga konsistensi kualitas dan memperkuat strategi branding, Bamsoet optimis dalam beberapa tahun mendatang, dunia tidak hanya akan mengenal Havana atau Republik Dominika sebagai pusat cerutu premium, tetapi juga Jember sebagai destinasi utama bagi pecinta cerutu berkualitas tinggi.











