BTN & KAI Sinergi Bangun Hunian TOD Terintegrasi Transportasi Publik

Budi Santoso

BTN & KAI Sinergi Bangun Hunian TOD Terintegrasi Transportasi Publik

Jakarta – PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) dan PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI resmi menjalin kerja sama strategis untuk mengembangkan hunian berbasis Transit Oriented Development (TOD) di berbagai kota penting di Indonesia. Kolaborasi ini ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara Direktur Utama BTN, Nixon L.P. Napitupulu, dan Direktur Utama KAI, Bobby Rasyidin. Fokus utama kerja sama ini adalah pengembangan kawasan hunian vertikal yang terintegrasi langsung dengan moda transportasi publik seperti KRL Commuter Line, LRT, MRT, dan Transjakarta. Nixon menjelaskan bahwa inisiatif ini merupakan wujud dukungan kedua Badan Usaha Milik Negara (BUMN) terhadap Program Tiga Juta Rumah Pemerintah, sekaligus menjadi solusi efektif dalam menghadapi tantangan urbanisasi yang terus meningkat dan keterbatasan lahan di area perkotaan. Konsep hunian berbasis TOD dinilai semakin relevan bagi Indonesia karena kemampuannya menghubungkan hunian, transportasi publik, dan pusat aktivitas ekonomi dalam satu kawasan yang terintegrasi. "Pembangunan kota masa depan tidak lagi bisa memisahkan antara hunian, transportasi, dan pusat aktivitas ekonomi. Karena itu, konsep Transit Oriented Development atau TOD menjadi sangat relevan untuk dikembangkan di Indonesia," ujar Nixon.

Nixon menggarisbawahi bahwa banyak pekerja di Jakarta yang masih harus menempuh jarak jauh dari tempat tinggal ke pusat kota, menyebabkan biaya transportasi dapat mencapai 20 hingga 25 persen dari penghasilan bulanan mereka. Oleh karena itu, pengembangan hunian vertikal di pusat kota dianggap sebagai solusi yang lebih efisien dan terjangkau bagi masyarakat perkotaan. Lebih lanjut, Nixon menambahkan bahwa pengembangan kawasan stasiun menjadi pusat hunian dan aktivitas ekonomi telah menjadi tren global yang sukses diterapkan di negara-negara maju seperti Jepang, Singapura, dan Hong Kong. Ia meyakini model ini mampu menciptakan kawasan perkotaan yang lebih efisien, produktif, dan nyaman bagi seluruh masyarakat.

Baca Juga :  Indonesia Siapkan Pusat Keuangan Global di Bali

Mengenai harga, Nixon menyebutkan bahwa harga unit hunian vertikal ini akan dimulai dari kisaran Rp500 jutaan untuk segmen Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR). Sementara itu, unit nonsubsidi akan dipasarkan mulai dari kisaran Rp700 jutaan hingga di atas Rp1 miliar, tergantung pada tipe dan lokasi tower. Untuk memastikan keterjangkauan bagi masyarakat, BTN telah menyiapkan fasilitas Kredit Pemilikan Rumah (KPR) Rumah Susun FLPP dengan suku bunga tetap enam persen per tahun dan tenor hingga 30 tahun. Dengan skema ini, masyarakat dapat memiliki hunian vertikal di pusat kota dengan uang muka mulai dari satu persen dan estimasi angsuran sekitar Rp2,9 jutaan per bulan untuk unit seharga Rp500 juta. Program ini ditujukan bagi masyarakat dengan penghasilan maksimal Rp12 juta per bulan bagi lajang dan Rp14 juta per bulan bagi yang sudah menikah.

Selain KPR untuk konsumen akhir, BTN juga berkomitmen memberikan dukungan pembiayaan melalui skema Kredit Program Perumahan (KPP). Skema ini dirancang untuk mendukung ekosistem usaha di kawasan hunian, termasuk bagi para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) perorangan. Melalui KPP, BTN menyediakan pembiayaan mulai dari Rp10 juta hingga Rp500 juta yang dapat digunakan untuk pembelian, pembangunan, maupun renovasi rumah, sekaligus mendukung kegiatan usaha masyarakat. Dalam kerja sama ini, BTN akan berperan dalam pembiayaan konstruksi, penyediaan fasilitas KPR, serta pengelolaan demand pipeline management untuk mendukung pengembangan proyek TOD selanjutnya di berbagai kawasan strategis milik KAI.

Baca Juga :  BPKN Dukung Gugatan Kelompok untuk PLN Akibat Blackout Sumatera

Saat ini, BTN dan KAI telah mencatat ribuan calon peminat awal untuk proyek TOD Manggarai, yang akan segera diverifikasi secara bertahap sebagai bagian dari pengelolaan basis data permintaan hunian. Nixon menyatakan bahwa ke depannya, BTN dan KAI akan terus melanjutkan pembahasan teknis dan pengembangan proyek secara bertahap. Tujuannya adalah agar manfaat kawasan TOD dapat segera dirasakan oleh masyarakat luas, sekaligus berkontribusi pada pembangunan kota yang lebih terintegrasi di seluruh Indonesia.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Utama KAI, Bobby Rasyidin, menambahkan bahwa proyek ini secara efektif menggabungkan tiga elemen krusial: hunian vertikal yang terjangkau, konsep TOD, dan pengembangan pusat bisnis baru di Jakarta. "Kita menggabungkan tiga hal sebenarnya. Satu adalah perumahan vertikal yang harganya terjangkau, yang merupakan bagian dari program penting dari pemerintah Bapak Presiden Prabowo Subianto. Yang kedua, kita merealisasikan konsep TOD, Transit Oriented Development," pungkas Bobby.

Also Read

Tinggalkan komentar