BSI Catat Laba Rp 2,2 Triliun, Bisnis Emas Jadi Kekuatan Baru

Budi Santoso

BSI Catat Laba Rp 2,2 Triliun, Bisnis Emas Jadi Kekuatan Baru

PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) mencatat kinerja keuangan yang impresif pada kuartal I 2026, dengan laba bersih mencapai Rp 2,2 triliun, mengalami pertumbuhan sebesar 17,1 persen secara tahunan. Pertumbuhan ini ditopang oleh berbagai lini bisnis perseroan, salah satunya adalah bisnis emas yang kian menunjukkan taringnya sebagai sumber pendapatan berbasis komisi atau fee based income yang signifikan, bahkan tumbuh 22,3 persen secara tahunan.

Direktur Utama BSI, Anggoro Eko Cahyo, menyatakan bahwa bisnis emas telah menjelma menjadi salah satu kekuatan baru bagi perseroan, melengkapi ekosistem haji dan umrah yang sudah mapan. "Bisnis emas mulai menjadi sumber pertumbuhan baru yang semakin relevan bagi BSI," ungkap Anggoro dalam paparan kinerja kuartal I 2026 BSI, Selasa (12/5/2026). Ia menambahkan, posisi BSI sebagai bank syariah sekaligus bullion bank memberikan ruang pertumbuhan yang unik dan berbeda dibandingkan dengan bank-bank lain.

BSI resmi menyandang predikat bullion bank pertama di Indonesia sejak diresmikan oleh Presiden Prabowo Subianto pada Februari 2025. Keberhasilan ini tercermin dari lonjakan jumlah nasabah tabungan emas yang kini telah menembus angka satu juta pengguna, padahal layanan ini baru berjalan sekitar satu tahun. Direktur Finance and Strategy BSI, Ade Cahyo Nugroho, menyoroti bahwa pertumbuhan bisnis emas tidak hanya didorong oleh peningkatan jumlah nasabah, tetapi juga oleh filosofi yang diusung. "Yang kami dorong bukan orang membeli emas untuk spekulasi jangka pendek, tetapi membangun kebiasaan menabung jangka panjang," ujar Ade.

Baca Juga :  Ekspor Non-Migas RI ke Tiga Negara Ini Capai 44,52%

Melalui aplikasi BYOND, masyarakat dimudahkan untuk berinvestasi emas, bahkan mulai dari Rp 50 ribu. Nasabah juga memiliki fleksibilitas untuk menjual maupun mentransfer emas secara digital. Skema ini dinilai membuat investasi emas menjadi lebih terjangkau dan inklusif, terutama bagi generasi muda.

Selain performa jumlah nasabah yang terus meningkat, bisnis emas BSI juga menunjukkan kualitas pembiayaan yang sangat sehat. Direktur Risk Management BSI, Grandhis Helmi Harumansya, memaparkan bahwa pembiayaan emas memiliki tingkat imbal hasil sekitar 10 persen dengan rasio pembiayaan bermasalah atau non-performing financing (NPF) yang sangat rendah, hanya sebesar 0,01 persen. "Pembiayaan emas menjadi salah satu segmen dengan kualitas terbaik," tegas Grandhis.

Hingga kini, total emas yang dikelola BSI melalui bisnis bullion telah mencapai sekitar 23 ton. Pertumbuhan bisnis emas ini tidak hanya menopang kinerja perseroan secara keseluruhan, tetapi juga mencerminkan kepercayaan masyarakat terhadap instrumen investasi emas syariah yang aman. BSI memproyeksikan tren peningkatan investasi emas akan terus berlanjut, didorong oleh ketidakpastian ekonomi global dan meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya instrumen investasi yang stabil dan aman. Total aset BSI pada kuartal I 2026 juga tercatat solid, mencapai Rp 460 triliun.

Also Read

Tinggalkan komentar