
Bursa Efek Indonesia (BEI) mengakui bobot saham Indonesia dalam indeks global Morgan Stanley Capital International (MSCI) akan mengalami penurunan. Keputusan ini diambil MSCI sebagai respons terhadap masuknya sejumlah saham Indonesia dalam kategori High Shareholding Concentration (HSC) atau kepemilikan terkonsentrasi tinggi. Penurunan bobot ini berimplikasi pada berkurangnya porsi investasi asing di saham-saham Indonesia yang terdaftar dalam indeks MSCI.
Penjabat sementara (Pjs) Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, menjelaskan bahwa jika MSCI mengeluarkan saham-saham RI yang masuk kategori HSC dan tidak ada saham baru yang menggantikannya, maka bobot Indonesia dalam indeks global tersebut diprediksi akan menurun dalam jangka pendek. "Jadi, kalau itu dilakukan oleh MSCI dan tidak ada saham baru yang masuk dalam MSCI, kita dalam jangka pendek akan melihat mungkin saja weighting Indonesia turun," ungkap Jeffrey saat acara Investor Relations Forum di Jakarta Selatan, Senin (11/5/2026).
Menyikapi tren global ini, BEI telah mengambil langkah proaktif dengan mengeluarkan saham-saham berstatus HSC dari papan perdagangan utama pada indeks LQ45, IDX80, dan IDX30. Kebijakan ini merupakan bagian dari upaya BEI untuk meningkatkan kualitas dan transparansi pasar modal Indonesia. Saat ini, terdapat 10 saham yang masuk dalam kategori HSC, yang pertama kali diumumkan oleh BEI pada awal April. "Saham-saham yang masuk di dalam High shareholding concentration itu sudah kami keluarkan dari prime index kami IDX80, LQ45, dan IDX30. MSCI sudah menyatakan akan melakukan hal yang sama," tegas Jeffrey.
Jeffrey menilai bahwa penyesuaian bobot saham akibat kebijakan HSC ini mungkin terasa seperti "pil pahit" bagi pasar modal Indonesia dalam jangka pendek. Namun, ia meyakini bahwa langkah ini akan berkontribusi pada pertumbuhan pasar modal yang lebih sehat dan berkelanjutan di masa depan. "Kami mengibaratkan apa yang kita lakukan saat ini adalah pil pahit jangka pendek yang kita telan untuk kesehatan jangka panjang kita. Untuk long term kami optimis weighting Indonesia akan naik di MSCI," ujarnya optimis.
MSCI dijadwalkan mengumumkan rebalancing saham Indonesia pada Selasa (12/5). Dalam pengumuman tersebut, MSCI akan mengecualikan saham-saham RI yang tergolong HSC, sekaligus mempertahankan pembekuan rebalancing Mei 2026.
Sebelumnya, BEI telah mengidentifikasi beberapa saham yang masuk dalam kategori HSC, termasuk PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) dan PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN). DSSA memiliki struktur kepemilikan yang sangat terkonsentrasi, di mana 95,76% sahamnya dikuasai oleh segelintir pihak. Sementara itu, BREN mencatat konsentrasi kepemilikan sebesar 97,31% dari total saham. Kedua saham ini sebelumnya menjadi komponen indeks MSCI berdasarkan hasil rebalancing tahun lalu, namun kini terancam dikeluarkan akibat masuk dalam kategori HSC.











