Bitcoin Anjlok di Bawah US$70 Ribu, Sentimen Pasar Memburuk

Budi Santoso

Bitcoin Anjlok di Bawah US$70 Ribu, Sentimen Pasar Memburuk

Harga Bitcoin mengalami penurunan drastis, menyentuh level terendah sejak April di bawah US$70.000. Mata uang kripto utama ini ambruk lebih dari 6% pada Selasa waktu setempat, tercatat di US$67.014,97, bahkan sempat menyentuh US$66.954,99. Kejatuhan ini tidak hanya menimpa Bitcoin, namun juga mata uang kripto lainnya seperti Ether (ETH) yang melemah 4,7%, serta saham-saham di sektor kripto. Saham Strategy merosot 9%, Galaxy anjlok 5,9%, dan Coinbase turun 4,7%, menunjukkan sentimen pasar yang memburuk secara luas.

Pemicu utama pelemahan ini adalah aksi jual sebagian kecil aset Bitcoin oleh Strategy, perusahaan penyimpan Bitcoin terbesar. Penjualan ini merupakan yang pertama sejak tahun 2022, dan mengejutkan pasar mengingat pendiri Strategy, Michael Saylor, dikenal dengan filosofi "jangan pernah jual Bitcoinmu". Meskipun rencana penjualan ini telah diumumkan sebelumnya, langkah tersebut tetap menimbulkan kekhawatiran.

Dampak dari aksi jual Strategy memicu gelombang likuidasi massal (long liquidation). Para trader yang menggunakan sistem utang (leverage) untuk bertaruh pada kenaikan harga Bitcoin mendapati posisi mereka terpaksa ditutup paksa oleh bursa. Ketika pasar berbalik arah, bursa kripto akan menjual aset trader tersebut untuk menutupi kerugian, mempercepat penurunan harga. Data dari CoinGlass mencatat likuidasi massal senilai US$594 juta dalam 24 jam terakhir.

Penurunan ini terjadi di tengah upaya Bitcoin untuk kembali merangkak naik menuju rekor tertingginya pada Oktober lalu yang melampaui US$126.000. Namun, ketidakpastian global, seperti ketegangan AS-Iran, terus menekan harga Bitcoin, berbanding terbalik dengan pasar saham yang justru mencetak rekor baru.

Baca Juga :  Tragedi Kereta Bekasi Timur: Menhub Tekankan Evaluasi Total Keamanan

Kondisi ini memunculkan dua narasi utama yang mulai dipertanyakan mengenai kehebatan Bitcoin. Pertama, narasi Bitcoin sebagai "emas digital" yang seharusnya meroket di saat terjadi perang atau ketidakpastian dunia. Kedua, anggapan bahwa Bitcoin akan selalu bergerak seirama dengan saham-saham teknologi yang agresif. Namun, saat saham teknologi justru meroket, Bitcoin malah mengalami kejatuhan, menimbulkan keraguan terhadap kedua asumsi tersebut.

Also Read

Tinggalkan komentar