
Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Eko Listiyanto mengapresiasi keputusan Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin menjadi 5,25 persen. Menurut Eko, langkah ini menunjukkan arah kebijakan yang pro-stabilitas, sebuah fondasi krusial untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Kenaikan suku bunga ini dinilai penting untuk membendung potensi keluarnya modal asing (capital outflow) yang dapat menekan nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian geopolitik global.
Dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Mei 2026, BI memutuskan menaikkan BI-Rate dari 4,75 persen menjadi 5,25 persen. Penyesuaian ini merupakan yang pertama kalinya setelah suku bunga acuan dipertahankan stabil sejak September 2025. Sepanjang tahun 2025, BI telah melakukan pemangkasan suku bunga sebanyak lima kali dengan total penurunan 125 basis poin, menunjukkan upaya sebelumnya untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Namun, dalam konteks tantangan global saat ini, prioritas beralih ke stabilitas.
Eko Listiyanto menekankan bahwa stabilitas nilai tukar rupiah sangat vital di tengah tekanan geopolitik global. "Bank Indonesia saat ini lebih memprioritaskan stabilitas dibanding pertumbuhan ekonomi. Langkah itu penting untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tekanan geopolitik global dan potensi capital outflow," ujarnya. Ia menambahkan bahwa stabilitas merupakan dasar bagi terciptanya pertumbuhan.
Selain kebijakan moneter, Eko juga menyoroti tantangan ekonomi nasional yang beragam. Salah satunya adalah menjaga konsistensi belanja negara agar tetap mampu menopang pertumbuhan ekonomi dan memulihkan kepercayaan pasar. Penyampaian langsung Kerangka Ekonomi Makro (KEM)-PPKF dan RAPBN 2027 oleh Presiden Prabowo Subianto pada Rabu (20/5/2026) dinilai sebagai upaya pemerintah untuk membangun optimisme kebangkitan ekonomi nasional di tengah berbagai tantangan.
Meskipun demikian, Eko menilai asumsi pertumbuhan ekonomi yang dipatok pada kisaran 5,8 hingga 6,5 persen masih terlalu optimistis mengingat kondisi ekonomi saat ini. Namun, ia mengapresiasi peningkatan penerimaan negara hingga April 2026, terutama dari sektor perpajakan seperti PPh 21, PPN, dan PPnBM. Kenaikan ini sebagian juga dipengaruhi oleh pola musiman penerimaan pajak yang cenderung meningkat pada bulan April.
Tantangan utama ke depan, menurut Eko, adalah menjaga konsistensi belanja negara agar terus menjadi penopang pertumbuhan ekonomi. Jika belanja pemerintah kembali moderat pada semester berikutnya, dorongan terhadap pertumbuhan ekonomi berpotensi melambat. Eko juga mengingatkan pentingnya efektivitas dan kualitas implementasi program pemerintah. Fokus seharusnya tidak hanya pada jumlah penerima manfaat, tetapi lebih pada kualitas program dan tata kelolanya agar program pemerintah benar-benar optimal. "Perhatian ke depan adalah bagaimana memastikan program pemerintah optimal, bukan hanya banyaknya penerima manfaat, tetapi kualitas program dan tata kelolanya," tegasnya.
Sumber: Antara











