
Pemerintah melalui Kementerian Keuangan, bersama Bank Indonesia, mengambil langkah strategis untuk memperkuat nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat. Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, menyatakan bahwa pihaknya akan meningkatkan intervensi di pasar obligasi melalui skema bond stabilization fund (BSF) untuk menstabilkan pergerakan Rupiah. Langkah ini diambil mengingat Rupiah yang sempat mengalami pelemahan signifikan, bahkan mencapai titik terparah sepanjang masa terhadap Dolar AS.
Pada salah satu titik observasi, nilai tukar Dolar AS tercatat di level Rp 17.658, meskipun menunjukkan penguatan tipis sebesar 61 poin atau 0,35%. Penguatan ini terjadi setelah periode pelemahan yang cukup mengkhawatirkan. Menyadari urgensi situasi, Kementerian Keuangan memutuskan untuk meningkatkan partisipasinya di pasar obligasi secara lebih signifikan dibandingkan dengan minggu sebelumnya. Target utamanya adalah agar pasar obligasi dapat terkendali, yang pada gilirannya diharapkan dapat memperkuat nilai tukar Rupiah.
"Kita juga akan masuk ke bond market mulai hari ini, Minggu lalu udah masuk, tapi hanya sedikit. Mulai hari ini akan kita masuk dengan lebih signifikan lagi, sehingga pasar obligasinya terkendali," jelas Purbaya di Lanud Halim Perdanakusumah, Jakarta Timur, Senin (18/5/2026). Dengan adanya intervensi ini, investor asing yang memegang surat utang negara tidak perlu merasa khawatir untuk menjualnya karena penurunan harga. Hal ini penting untuk meredam gejolak nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS.
Lebih lanjut Purbaya menjelaskan, "Jadi, asing yang pegang obligasi nggak keluar karena takut misalnya ada capital loss gara-gara harga obligasi turun. Itu kita akan bisa membantu pergerakan rupiah sedikit." Sejak minggu lalu, Kementerian Keuangan telah berkomitmen untuk membantu Bank Indonesia dalam mengurangi tekanan terhadap nilai tukar Rupiah dengan memanfaatkan skema intervensi di pasar obligasi, yang rencananya mulai diimplementasikan sejak Rabu, 13 Mei 2026.
Purbaya mengklaim bahwa kas pemerintah saat ini dalam kondisi sangat berlimpah, memungkinkan untuk mendukung Bank Indonesia dalam melakukan intervensi tekanan Rupiah di pasar obligasi. "Kita akan coba membantu nilai tukar, kita membantu BI lah sedikit-sedikit kalau bisa. Kita masih banyak uang nganggur, kita intervention bond market supaya yield-nya nggak naik terlalu tinggi," ungkapnya.
Kenaikan yield obligasi yang terlalu tinggi dapat berakibat pada capital loss bagi investor asing yang memegang obligasi di Indonesia, mendorong mereka untuk melakukan outflow. Oleh karena itu, pengendalian yield menjadi krusial. Dengan menjaga yield agar tidak naik terlalu tinggi, diharapkan investor asing tidak akan keluar dari pasar obligasi Indonesia, bahkan berpotensi untuk masuk kembali jika yield membaik. Kondisi ini pada akhirnya akan berkontribusi pada penguatan nilai tukar Rupiah. "Jadi kita kendalikan itu supaya asing nggak keluar, atau masuk malah kalau yield-nya membaik sehingga rupiah akan menguat. Kita akan masuk mulai besok," pungkas Purbaya, merujuk pada tanggal intervensi yang lebih signifikan.











