AS Tutup Celah Ekspor Chip AI Canggih ke China

Budi Santoso

AS Tutup Celah Ekspor Chip AI Canggih ke China

Amerika Serikat telah mengambil langkah tegas dengan menutup celah peraturan yang sebelumnya memungkinkan perusahaan-perusahaan China untuk memperoleh chip kecerdasan buatan (AI) paling canggih, termasuk seri Blackwell buatan Nvidia, meskipun beroperasi di luar negeri. Departemen Perdagangan AS menerbitkan aturan baru pada Minggu yang secara spesifik mewajibkan perusahaan yang berkantor pusat di China untuk mendapatkan izin sebelum dapat memperoleh chip AI canggih dari Amerika Serikat. Aturan ini juga berlaku bagi anak perusahaan mereka yang berlokasi di negara lain, seperti Malaysia, yang sebelumnya dimanfaatkan untuk mengakali larangan ekspor langsung.

Langkah ini diambil setelah muncul laporan dan dokumen yang mengindikasikan bahwa perusahaan-perusahaan China telah menemukan cara untuk mengakses chip AI mutakhir melalui entitas luar negeri mereka. Sumber dari industri chip global memperkirakan bahwa ratusan ribu unit chip telah berhasil dikirim melalui jalur ini sebelum celah tersebut ditutup. Biro Industri dan Keamanan (BIS) AS menyatakan bahwa aturan mengenai kewajiban lisensi sebenarnya sudah diberlakukan sejak tahun 2023. Namun, panduan terbaru diterbitkan untuk memberikan klarifikasi yang lebih rinci, menegaskan bahwa kewajiban lisensi tetap berlaku bagi entitas yang berinduk di China, terlepas dari lokasi operasional fisik mereka.

"BIS mengeluarkan panduan yang memperjelas persyaratan lisensi ekspor yang sudah berlaku sejak 2023. BIS akan terus menegakkan kontrol ekspor secara ketat untuk melindungi teknologi penting Amerika," ujar juru bicara BIS, seperti dilaporkan oleh Reuters. Pernyataan ini menggarisbawahi komitmen AS untuk menjaga keunggulan teknologinya dan mencegah penyalahgunaan teknologi canggih oleh negara lain, khususnya China, yang dianggap sebagai pesaing strategis.

Baca Juga :  Rupiah Terus Melemah, BI Intervensi Namun Gagal Stabilkan

Seorang perwakilan dari Nvidia menyatakan bahwa panduan baru ini tidak mengubah posisi perusahaan. Sejak awal, Nvidia telah mematuhi arahan Departemen Perdagangan AS yang mewajibkan adanya lisensi untuk pengiriman chip tertentu kepada pihak-pihak yang terkait dengan China. Hal ini menunjukkan bahwa perusahaan teknologi besar seperti Nvidia telah mengantisipasi dan siap untuk mematuhi regulasi yang lebih ketat terkait ekspor teknologi sensitif.

Celah peraturan yang baru saja ditutup ini muncul setelah Departemen Perdagangan AS memutuskan untuk tidak menerapkan "AI Diffusion Rule" yang awalnya diterbitkan pada akhir masa pemerintahan Presiden Joe Biden. Aturan tersebut sebelumnya dirancang untuk mengatur persyaratan lisensi bagi akses global terhadap chip AI, namun keputusannya untuk tidak memberlakukannya secara penuh kemudian membuka peluang bagi perusahaan China untuk mencari jalan pintas.

Chris McGuire, seorang mantan pejabat Departemen Luar Negeri AS yang kini menjadi pakar teknologi dan keamanan nasional, menilai bahwa celah tersebut secara efektif memungkinkan anak usaha perusahaan China di luar negeri untuk membeli chip Nvidia Blackwell tanpa perlu mengurus lisensi. Menurutnya, panduan terbaru yang diterbitkan oleh Departemen Perdagangan AS ini berhasil menutup celah krusial tersebut dan mengembalikan kontrol ekspor pada jalur yang seharusnya. Penutupan celah ini merupakan bagian dari upaya berkelanjutan AS untuk mengendalikan penyebaran teknologi AI canggih yang dapat digunakan untuk tujuan militer atau strategis oleh negara lain.

Baca Juga :  Biznet Perkuat Konektivitas Digital dengan Teknologi Ciena 400G

Also Read

Tinggalkan komentar