APBN Terkendali, RI Terbitkan Panda Bonds Perkuat Rupiah

Budi Santoso

APBN Terkendali, RI Terbitkan Panda Bonds Perkuat Rupiah

Kementerian Keuangan melaporkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga Maret 2026 mengalami defisit sebesar Rp240,1 triliun atau setara 0,93 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Meskipun demikian, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan bahwa kondisi APBN masih dalam batas terkendali. Dalam konferensi pers APBN KiTa edisi Mei 2026 di Jakarta pada Selasa (5/5/2026), Purbaya memaparkan rincian kinerja fiskal negara.

Di tengah upaya menjaga stabilitas ekonomi, pemerintah Indonesia juga menyiapkan langkah strategis untuk memperkuat nilai tukar rupiah. Salah satu strategi utama yang diungkapkan adalah rencana penerbitan Panda Bonds di China. Langkah ini merupakan bagian dari upaya diversifikasi sumber pembiayaan internasional yang lebih luas, guna mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap dolar Amerika Serikat.

"Untuk memperkuat nilai tukar, kami juga akan menerbitkan Panda Bonds di China dengan bunga yang lebih rendah sehingga kita tidak terlalu bergantung pada dolar AS. Dengan demikian, diversifikasi pembiayaan akan semakin baik ke depan," ujar Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dalam keterangan resmi Biro Pers, Media, dan Informasi (BPMI) Sekretariat Presiden di Jakarta, Rabu (6/5/2026).

Penerbitan instrumen utang di pasar China ini dinilai sangat menguntungkan. Tingkat bunga yang ditawarkan oleh pasar China dianggap lebih kompetitif, memberikan ruang lebih besar bagi pemerintah untuk mengelola biaya utang. Strategi penguatan nilai tukar ini merupakan hasil dari pembahasan mendalam dalam rapat terbatas yang dipimpin oleh Presiden Prabowo Subianto, bersama dengan sejumlah menteri Kabinet Merah Putih dan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK). Fokus utama pertemuan tersebut adalah untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional yang saat ini tengah mengalami akselerasi positif.

Baca Juga :  Menkeu Turun Tangan Bantu BI Kendalikan Rupiah

Selain upaya penguatan nilai tukar rupiah, pemerintah juga mencatat capaian positif dalam pertumbuhan ekonomi nasional. Data terbaru menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi nasional meningkat menjadi 5,61 persen. Angka ini menunjukkan kenaikan signifikan dibandingkan periode sebelumnya yang tercatat sebesar 5,39 persen. Purbaya menekankan bahwa peningkatan angka pertumbuhan ekonomi ini menjadi sinyal positif bahwa perekonomian Indonesia telah mulai berbalik arah dan menunjukkan tren akselerasi yang kuat. Pertumbuhan yang solid ini diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi stabilitas ekonomi makro dan kesejahteraan masyarakat. Dengan kombinasi kebijakan fiskal yang prudent dan strategi pembiayaan yang inovatif, pemerintah optimis dapat terus menjaga stabilitas ekonomi dan mendorong pertumbuhan yang berkelanjutan.

Also Read

Tinggalkan komentar