APBN 2026 Defisit Terkendali, Ekonomi RI Optimistis Dekati 6%

Budi Santoso

APBN 2026 Defisit Terkendali, Ekonomi RI Optimistis Dekati 6%

Kementerian Keuangan melaporkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga Maret 2026 mengalami defisit sebesar Rp240,1 triliun atau setara 0,93 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), namun masih dalam kondisi terkendali. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa optimistis pertumbuhan ekonomi Indonesia hingga akhir 2026 bisa mendekati level 6 persen, meskipun situasi global masih dibayangi ketidakpastian akibat konflik geopolitik dan gejolak pasar keuangan dunia.

Purbaya menegaskan, pemerintah akan terus menjaga permintaan domestik agar aktivitas ekonomi nasional tetap bergerak sepanjang tahun ini. "Kalau kita lihat di APBN, targetnya 5,4 persen ya tahun ini. Kita akan dorong terus ke atas, mudah-mudahan bisa mendekati 6 persen sampai akhir tahun," ujar Purbaya dalam Taklimat Media hasil rapat Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), Kamis (7/5/2026). Ia menambahkan, pemerintah akan menjaga momentum pertumbuhan melalui berbagai kebijakan fiskal dan stimulus ekonomi, terutama pada kuartal II 2026.

Menurut Purbaya, konsumsi dalam negeri masih menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi nasional di tengah perlambatan ekonomi global. Oleh karena itu, pemerintah berupaya menjaga daya beli masyarakat melalui bantuan sosial, program makanan bergizi gratis, serta berbagai belanja negara lainnya. "Hal yang sama akan kita lakukan di triwulan kedua dan sampai dengan akhir tahun untuk memastikan permintaan domestik tetap terjaga dan kita masih bisa tumbuh dengan baik," katanya.

Baca Juga :  Perjalanan Wisata Indonesia Meroket di Awal 2026

Selain menjaga konsumsi masyarakat, pemerintah juga menyiapkan stimulus tambahan untuk menopang aktivitas ekonomi pada kuartal kedua tahun ini. "Pemerintah juga masih akan memberikan stimulus tambahan bagi perekonomian di kuartal kedua tahun 2026 ini," ujar Purbaya. Optimisme pemerintah ini sejalan dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2026 yang tercatat cukup tinggi. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan ekonomi Indonesia tumbuh 5,61 persen secara tahunan, lebih tinggi dibanding pertumbuhan kuartal IV 2025 sebesar 5,39 persen maupun periode yang sama tahun lalu sebesar 4,87 persen.

Defisit APBN yang terkendali menunjukkan kemampuan pemerintah dalam mengelola keuangan negara di tengah tantangan ekonomi global. Upaya menjaga permintaan domestik melalui berbagai stimulus dan bantuan sosial menjadi strategi kunci untuk memastikan pertumbuhan ekonomi tetap stabil dan bahkan berpotensi mendekati target yang lebih tinggi. Kebijakan fiskal yang proaktif dan antisipatif menjadi andalan pemerintah untuk menghadapi ketidakpastian ekonomi global serta mendorong akselerasi pertumbuhan ekonomi nasional. Fokus pada konsumsi dalam negeri sebagai mesin pertumbuhan utama diharapkan dapat memitigasi dampak perlambatan ekonomi global dan menjaga stabilitas ekonomi makro Indonesia. Dengan menjaga daya beli masyarakat dan memberikan stimulus yang tepat sasaran, pemerintah berupaya menciptakan iklim ekonomi yang kondusif bagi pelaku usaha dan masyarakat luas.

Also Read

Tinggalkan komentar