
Pemerintah China secara resmi telah mengajukan rencana ambisius untuk meluncurkan sekitar 200.000 satelit ke orbit bumi rendah sebagai upaya strategis menantang dominasi layanan internet satelit Starlink milik SpaceX. Berdasarkan laporan Persatuan Telekomunikasi Internasional (ITU), badan khusus PBB yang mengelola teknologi informasi dan komunikasi, Negeri Tirai Bambu telah mengajukan alokasi pita frekuensi radio dan orbit satelit dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya. Langkah masif ini menunjukkan tekad kuat China untuk membangun infrastruktur komunikasi global versi mereka sendiri guna mengurangi ketergantungan pada teknologi Amerika Serikat.
Sistem Starlink yang dioperasikan oleh Elon Musk saat ini menjadi pemimpin pasar dengan menyediakan akses internet cepat melalui ribuan satelit kecil. Keunggulan Starlink tidak hanya terbatas pada sektor sipil, tetapi juga terbukti krusial dalam bidang militer, seperti yang terlihat pada peran aktifnya membantu Ukraina dalam menghadapi invasi Rusia. Hal inilah yang memicu kekhawatiran mendalam bagi Beijing. Data dari ITU mengungkapkan bahwa institusi penelitian di Provinsi Hebei telah mendaftarkan rencana penempatan 193.400 satelit pada akhir tahun lalu. Selain itu, berbagai perusahaan komunikasi yang berbasis di Beijing dan Shanghai juga telah mengantongi izin untuk meluncurkan sedikitnya 10.000 satelit tambahan.
Perebutan ruang di orbit bumi kini menjadi perlombaan yang sangat kompetitif karena ITU menerapkan prinsip "siapa cepat, dia dapat" dalam mengalokasikan orbit. Otoritas angkasa China menegaskan bahwa frekuensi radio dan slot orbit adalah aset strategis yang sangat terbatas. Jika China tidak segera mengamankan posisi mereka, ruang tersebut akan habis dikuasai oleh perusahaan-perusahaan Barat. Dalam rencana pembangunan ekonomi lima tahun hingga 2030, pengembangan jaringan komunikasi satelit telah ditetapkan sebagai prioritas nasional demi mencapai kedaulatan digital.
Selain aspek ekonomi, dorongan China ini sangat dipengaruhi oleh faktor geopolitik, khususnya terkait isu Taiwan. Beijing telah melakukan riset mendalam mengenai cara kerja Starlink di sekitar wilayah Taiwan dan mengkhawatirkan kemampuan pengintaian serta pengumpulan intelijen sistem tersebut yang dapat menguntungkan militer Amerika Serikat. Namun, ambisi besar ini menuai skeptisisme dari para ahli internasional. Profesor Kazuto Suzuki dari Universitas Tokyo menilai rencana peluncuran ratusan ribu satelit tersebut tidak realistis secara teknis dan lebih bersifat politis untuk menunjukkan kekuatan kepada dunia bahwa China mampu menandingi kapabilitas teknologi Amerika Serikat.
Meskipun diragukan, China tetap bergerak maju dengan visi menjadi negara adidaya antariksa di bawah kepemimpinan Xi Jinping. Selain proyek satelit internet, Beijing menargetkan pendaratan manusia di Bulan pada tahun 2030. Kantor berita Xinhua juga melaporkan rencana peluncuran misi eksplorasi Mars pada tahun 2028 dengan target membawa pulang sampel tanah Mars ke Bumi pada tahun 2031, sebuah pencapaian yang akan mengukuhkan posisi China di jajaran terdepan eksplorasi ruang angkasa global.











