Airlangga Bantah RI Manipulasi Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dolar AS

Budi Santoso

Airlangga Bantah RI Manipulasi Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dolar AS

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan bahwa pemerintah Indonesia tidak pernah secara sengaja melemahkan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) untuk mendongkrak daya saing ekspor. Pernyataan tegas ini merupakan respons atas kecurigaan Amerika Serikat terhadap sejumlah negara di Asia yang diduga melakukan manipulasi kurs guna memperoleh keuntungan perdagangan secara tidak adil. Airlangga memastikan bahwa Indonesia tetap berkomitmen pada mekanisme pasar yang transparan dan tidak termasuk dalam daftar negara yang melakukan praktik manipulasi mata uang tersebut demi kepentingan sepihak.

Kondisi pelemahan rupiah yang sempat menyentuh level Rp 17.300-an per dolar AS dipandang sebagai dampak murni dari dinamika ekonomi global yang sedang bergejolak. Airlangga menjelaskan bahwa fenomena penguatan dolar AS, atau yang sering disebut sebagai super dollar, tidak hanya memberikan tekanan pada rupiah, tetapi juga memukul mata uang negara-negara maju lainnya seperti yen Jepang, euro, hingga pound sterling. Pemerintah bersama Bank Indonesia terus berupaya menjaga stabilitas nilai tukar agar tidak terjatuh terlalu dalam, namun tetap menyadari bahwa kebijakan moneter nasional tidak bisa sepenuhnya melawan arus besar ekonomi global atau headwind yang sedang terjadi.

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti, mengungkapkan bahwa tekanan terhadap rupiah saat ini dipicu oleh meningkatnya ketidakpastian global yang memicu pelarian modal ke aset yang lebih aman. Secara tahun kalender atau year-to-date, rupiah tercatat mengalami pelemahan sebesar 3,54%, sebuah angka yang menurut otoritas moneter masih berada dalam batas kewajaran dan sejalan dengan pergerakan mata uang di kawasan regional Asia lainnya. Bank Indonesia terus melakukan intervensi di pasar valuta asing dan pasar obligasi guna memastikan likuiditas tetap terjaga dan volatilitas nilai tukar tidak mengganggu fundamental ekonomi domestik.

Baca Juga :  KVB Futures Gelar CSR Perdana di Yayasan Pondok Kasih Mandiri Jakarta

Hingga perdagangan akhir April 2026, dolar AS terpantau masih menunjukkan taringnya dengan berada di posisi Rp 17.239, mengalami kenaikan tipis sekitar 0,16%. Penguatan mata uang Paman Sam ini didukung oleh data ekonomi domestik AS yang tetap solid di tengah inflasi yang sulit turun, yang memaksa bank sentral AS (The Fed) untuk mempertahankan suku bunga tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama. Di sisi lain, pemerintah Indonesia terus memperkuat ketahanan ekonomi nasional melalui optimalisasi Devisa Hasil Ekspor (DHE) dan penguatan sektor riil agar ketergantungan terhadap mata uang asing dapat diminimalisir secara bertahap dalam jangka panjang.

Also Read

Tinggalkan komentar