
Produsen pesawat terbesar Eropa, Airbus, menunjukkan minat serius untuk berkontribusi dalam pengembangan ekosistem industri dirgantara Indonesia dan berambisi mendirikan pabrik di tanah air dalam jangka panjang. Keputusan ini didasari oleh proyeksi pertumbuhan kebutuhan pesawat domestik yang signifikan selama dua dekade mendatang. Deputi Bidang Ekonomi dan Transformasi Digital Kementerian PPN/Bappenas, Vivi Yulaswati, mengungkapkan bahwa saat ini Airbus hanya memiliki empat pabrik utama di Eropa, yaitu di Inggris, Prancis, Jerman, dan Spanyol. Namun, perusahaan ini telah memulai ekspansi pabrik di Asia, dengan rencana pembangunan di China dan India yang sudah berjalan sejak dua tahun lalu.
Pemerintah Indonesia memperkirakan tingkat perjalanan udara per kapita akan meningkat drastis dari sekitar 0,4 kali per tahun menjadi 1,4 kali per tahun dalam 20 tahun ke depan. Pertumbuhan trafik penumpang udara diprediksi mencapai rata-rata 7,4% per tahun, melebihi rata-rata global yang hanya 3,6%, sehingga total penumpang akan mencapai sekitar 477 juta orang. Lonjakan ini diperkirakan akan meningkatkan kebutuhan armada pesawat di Indonesia hingga tiga kali lipat, dari 550 unit menjadi sekitar 1.900 unit pada tahun 2045. Melihat potensi pasar yang besar ini, Airbus tertarik untuk mendirikan pabrik di Indonesia.
Namun, Vivi Yulaswati menekankan bahwa realisasi pembangunan pabrik pesawat oleh Airbus di Indonesia membutuhkan waktu yang panjang. Hal ini tidak hanya menyangkut investasi dan pembangunan fisik, tetapi juga kesiapan sumber daya manusia (SDM) dan penguasaan teknologi produksi. Oleh karena itu, Airbus sepakat untuk terlebih dahulu fokus pada pengembangan ekosistem industri dirgantara Indonesia. Fokus ini mencakup peningkatan kualitas SDM, pengembangan sektor perawatan dan pemeliharaan pesawat (maintenance, repair, and overhaul/MRO), serta penguatan kapasitas industri pendukung.
Airbus berencana mendukung Indonesia dalam membangun ekosistem industri kedirgantaraan yang kuat, termasuk dalam hal sumber daya manusia, penguatan industri komponen, dan standarisasi. Dengan demikian, diharapkan dalam 20 tahun ke depan, Indonesia tidak hanya siap untuk memiliki pabrik pesawat sendiri, tetapi juga menjadi bagian integral dari rantai pasok komponen pesawat global, termasuk untuk Airbus.
Presiden Airbus Asia-Pacific, Anand Stanley, menambahkan bahwa kerja sama produksi komponen pesawat antara Indonesia dan Airbus telah terjalin lebih dari 50 tahun, sejak 1976. Saat ini, Indonesia telah menjadi pemasok komponen untuk pesawat seri A320, A330, A350, dan helikopter H225. Airbus juga aktif mendukung pengembangan SDM di Indonesia, mulai dari pilot, insinyur, hingga teknisi, dengan penekanan khusus pada sektor MRO.
Stanley memaparkan bahwa visi Airbus adalah menjadi "warga negara Indonesia" dalam 20 tahun ke depan, yang berarti memiliki proposisi penerbangan Airbus yang utuh di seluruh ekosistem. Ini mencakup tidak hanya pesawat komersial dan militer, helikopter sipil dan militer, serta satelit, tetapi juga penguatan SDM dan rantai pasok. Airbus melihat Indonesia sebagai mitra strategis untuk mewujudkan visi ini, sebagaimana yang telah berhasil dilakukan di China dan India sebelumnya.











