IHSG Menguat ke 7.158 di Tengah Pelemahan Rupiah dan Sentimen Global

Budi Santoso

IHSG Menguat ke 7.158 di Tengah Pelemahan Rupiah dan Sentimen Global

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) mengawali perdagangan Senin pagi dengan catatan positif, menguat 29,02 poin atau sekitar 0,41 persen ke level 7.158,51. Meskipun dibuka di zona hijau, para pelaku pasar tetap diselimuti kewaspadaan tinggi mengingat dinamika pasar modal pada periode April 2026 ini diprediksi akan bergerak variatif dengan kecenderungan konsolidasi hingga melemah. Brigita Kinari, Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), dalam tinjauan pasarnya menekankan bahwa penguatan pagi ini bersifat terbatas karena adanya tekanan eksternal dan internal yang cukup signifikan, terutama dipicu oleh aksi risk-off investor global.

Secara teknikal, pergerakan indeks saat ini berada dalam fase jenuh jual atau oversold setelah sebelumnya menutup celah (gap) pada rentang 7.308 hingga 7.346. Kondisi ini memang membuka ruang bagi terjadinya technical rebound dalam jangka pendek. Namun, fokus utama investor kini tertuju pada pengujian area dukungan (support) krusial di rentang level 7.100 hingga 7.150. Jika indeks gagal mempertahankan posisi di atas level tersebut, terdapat risiko pelemahan lebih lanjut untuk menutup gap berikutnya di area 7.022-7.080, bahkan hingga menguji level dukungan psikologis yang lebih dalam di kisaran 6.917.

Dari sisi global, ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran yang belum menemukan titik temu dalam negosiasi menjadi faktor utama yang memicu ketidakpastian. Situasi ini memicu kekhawatiran akan terganggunya stabilitas pasar energi dan pasokan minyak dunia, yang pada gilirannya menjaga harga komoditas tetap tinggi. Dampak berantainya adalah terhambatnya laju penurunan inflasi global, yang memaksa Bank Sentral AS atau The Federal Reserve untuk tetap mempertahankan sikap kebijakan moneter yang ketat atau hawkish. Dalam situasi ketidakpastian ini, investor cenderung mengadopsi sikap defensif dengan mengalihkan modal mereka dari pasar negara berkembang ke aset-aset aman (safe haven) seperti dolar AS dan komoditas energi sebagai bentuk lindung nilai.

Baca Juga :  Impor Pangan Hanya 5 Persen, Amran Ungkap Indonesia Sudah Swasembada

Di dalam negeri, tekanan terhadap nilai tukar Rupiah menjadi perhatian serius setelah sempat menyentuh rekor terlemah di kisaran Rp 17.315 per dolar AS. Pelemahan mata uang Garuda ini tidak hanya memperbesar risiko inflasi dari barang impor (imported inflation), tetapi juga memicu potensi keluarnya modal asing (capital outflow) secara masif, terutama dari pasar obligasi. Selain itu, kebijakan penyesuaian harga BBM nonsubsidi seperti Pertamax dan Dex Series sejak 18 April 2026 turut memberikan tekanan pada sektor transportasi dan logistik. Kenaikan biaya energi ini dikhawatirkan akan menggerus daya beli masyarakat secara luas dan menekan margin laba perusahaan di sektor konsumsi.

Merespons kondisi tersebut, Bank Indonesia dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada 22-23 April 2026 memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan di level 4,75 persen. Langkah ini diambil sebagai strategi defensif dan pre-emptive untuk menjaga stabilitas makroekonomi di tengah volatilitas yang tinggi. Meskipun otoritas moneter terus melakukan intervensi di pasar valas dan mengoptimalkan instrumen moneter lainnya, efektivitas kebijakan ini dalam menahan depresiasi Rupiah tanpa mengorbankan momentum pertumbuhan ekonomi akan menjadi kunci penentu arah sentimen pasar domestik. Investor kini cenderung bergerak hati-hati sambil memantau efektivitas respons kebijakan pemerintah dalam menjaga stabilitas eksternal dan aliran dana asing.

Also Read

Tinggalkan komentar