Dolar AS Tembus Rp 17.300: Dampak Konflik Global dan Kebijakan The Fed

Budi Santoso

Dolar AS Tembus Rp 17.300: Dampak Konflik Global dan Kebijakan The Fed

Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) menunjukkan tren penguatan signifikan terhadap rupiah hingga sempat menyentuh level psikologis baru di angka Rp 17.300. Fenomena ini dipicu oleh kombinasi kompleks antara eskalasi ketegangan geopolitik global serta kebijakan moneter ketat dari bank sentral Amerika Serikat, The Fed. Direktur Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter (DKEM) Bank Indonesia, Juli Budi Winantya, mengungkapkan bahwa memanasnya konflik antara AS dan Iran menjadi faktor utama yang memperkeruh kondisi pasar keuangan internasional saat ini. Ketegangan tersebut diprediksi oleh banyak pelaku pasar akan berlangsung dalam jangka waktu yang lebih lama dari perkiraan semula, sehingga memicu kekhawatiran sistemik terhadap stabilitas pasokan energi dunia.

Dampak nyata dari konflik tersebut mulai dirasakan melalui lonjakan harga minyak mentah global yang disebabkan oleh gangguan pada jalur produksi dan distribusi di kawasan Timur Tengah. Kenaikan harga energi ini secara otomatis merembet pada kenaikan harga komoditas lain seperti gas dan bahan pangan, yang pada akhirnya memicu tekanan inflasi di berbagai belahan dunia. Akibat gangguan distribusi ini, proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia tahun ini terpaksa dipangkas dari 3,1% menjadi 3%, sementara estimasi inflasi global justru meningkat menjadi 4,2%. Situasi ekonomi yang melambat namun dibarengi inflasi tinggi membuat ruang bagi bank sentral dunia untuk melonggarkan kebijakan moneter menjadi sangat terbatas.

Baca Juga :  Bank bjb Berdayakan UMKM Perempuan Lewat Edukasi Pemasaran Digital

Dalam konteks kebijakan Amerika Serikat, The Fed diprediksi akan mempertahankan suku bunga tinggi atau Fed Fund Rate (FFR) lebih lama guna meredam inflasi di dalam negeri mereka. Bahkan, terdapat kemungkinan suku bunga tersebut tidak akan berubah hingga akhir tahun. Selain itu, peningkatan defisit fiskal AS akibat besarnya belanja militer telah menaikkan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah mereka. Kondisi ini meningkatkan daya tarik investasi pada aset keuangan AS, sehingga memicu arus modal keluar dari negara berkembang menuju Amerika Serikat. Fenomena ini menyebabkan apresiasi dolar AS terhadap hampir seluruh mata uang dunia, termasuk rupiah.

Meski menghadapi tekanan eksternal yang berat, fundamental ekonomi domestik Indonesia dinilai masih cukup tangguh. Bank Indonesia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi nasional tetap berada di kisaran 4,9% hingga 5,7% tahun ini, didukung oleh stimulus fiskal pemerintah serta bauran kebijakan moneter BI. Inflasi juga diperkirakan tetap terkendali dalam target sasaran 2,5% dengan deviasi 1%. Hingga Maret 2026, cadangan devisa Indonesia tercatat sebesar US$ 148,2 miliar. Walaupun angka ini sedikit menurun dibandingkan posisi Februari sebesar US$ 151,9 miliar, jumlah tersebut dianggap masih sangat memadai untuk melakukan intervensi pasar. BI berkomitmen penuh menjaga stabilitas nilai tukar melalui intervensi di pasar spot maupun forward guna memastikan volatilitas rupiah tetap terjaga di tengah ketidakpastian global.

Baca Juga :  Menkeu Purbaya Bereskan Internal Kemenkeu dan Pastikan APBN Aman

Also Read

Tinggalkan komentar