Ekonomi Iran Terpuruk Imbas Perang, Butuh Lebih dari 1 Dekade buat Pulih

Budi Santoso

Ekonomi Iran Terpuruk Imbas Perang, Butuh Lebih dari 1 Dekade buat Pulih

Kondisi di sektor pangan jauh lebih mengerikan bagi penduduk sipil, di mana inflasi kebutuhan pokok melonjak hingga 64% pada Oktober tahun lalu dan menembus angka psikologis 105% di Teheran pada Februari. Harga komoditas esensial seperti roti dan sereal meroket hingga 140%, sementara minyak serta lemak mencatat kenaikan gila-gilaan sebesar 219% sejak awal tahun hingga Maret 2026. Sebagai upaya putus asa untuk menyiasati devaluasi ekstrem dan memenuhi permintaan uang tunai yang melonjak, bank-bank di Iran mulai mengedarkan uang kertas pecahan baru sebesar 10 juta rial bulan lalu.

Lembaga moneter internasional IMF memprediksi ekonomi Iran akan menyusut sebesar 6,1% pada tahun 2026, dengan nilai tukar jatuh ke angka 1,32 juta rial per dolar AS. Ketidakpastian data semakin diperparah oleh pemadaman internet skala nasional yang membuat statistik domestik sulit diakses oleh pengamat luar negeri sejak tahun 2024. Pukulan telak ekonomi ini juga disebabkan oleh penutupan efektif Selat Hormuz akibat blokade AS, yang memutus 70% pendapatan dari penjualan minyak, padahal jalur tersebut melayani lebih dari 90% perdagangan energi Iran.

Para analis dari Brookings Institution menilai bahwa blokade ini memaksa Teheran ke titik buntu yang tidak terhindarkan. Selain kehilangan pendapatan ekspor, infrastruktur vital seperti kilang minyak dan pembangkit listrik mengalami kerusakan berat dengan estimasi kerugian mencapai US$ 200 miliar hingga US$ 270 miliar. Pejabat senior ekonomi telah memperingatkan Presiden Masoud Pezeshkian bahwa dibutuhkan waktu lebih dari satu dekade untuk memulihkan stabilitas nasional. Di tengah ancaman bencana kemanusiaan dan musim panas yang ekstrem, Iran kini bergantung pada kemungkinan kesepakatan damai untuk membebaskan diri dari "kotak penalti" ekonomi yang telah menjerat mereka selama empat dekade terakhir. Namun, dengan mitra dagang seperti Rusia dan Tiongkok yang mulai menjaga jarak, daya tawar Iran di meja perundingan diperkirakan akan jauh lebih lemah dari sebelumnya.

Baca Juga :  CEO Honda Akui Sulit Tandingi Efisiensi Produksi Mobil Listrik China

Also Read

Tinggalkan komentar