118 Wilayah Migas Baru Ditawarkan, Pemerintah Dorong Optimalisasi Sumur Idle

Budi Santoso

118 Wilayah Migas Baru Ditawarkan, Pemerintah Dorong Optimalisasi Sumur Idle

Pemerintah Indonesia tengah gencar meningkatkan produksi minyak dan gas bumi (migas) melalui strategi ganda: eksplorasi besar-besaran dan percepatan optimalisasi sumur migas yang saat ini tidak berproduksi atau berstatus idle. Dalam upaya ini, sebanyak 118 potensi wilayah kerja migas baru telah ditawarkan kepada investor. Data per 20 Mei 2026 menunjukkan antusiasme yang cukup tinggi dari sektor swasta, di mana 25 wilayah kerja telah diminati dan telah menandatangani kontrak.

Sementara itu, 43 wilayah kerja lainnya masih dalam tahap penjajakan melalui studi bersama, sebuah indikasi bahwa kolaborasi antara pemerintah dan calon pengelola wilayah migas baru terus berjalan intensif. Sisa wilayah kerja potensial lainnya akan mengikuti alur yang sama, baik melalui studi bersama maupun langsung ditetapkan sebagai wilayah kerja migas baru.

Selain pembukaan wilayah kerja baru, pemerintah juga memfokuskan perhatian pada optimalisasi sumur migas idle. PT Pertamina Hulu Energi (PT PHE) didapuk sebagai mitra utama dalam meningkatkan produksi dari sumur-sumur tersebut melalui skema Kerja Sama Operasi/Teknologi (KSOT). Langkah ini merupakan implementasi dari Peraturan Menteri ESDM Nomor 14 tahun 2025 tentang Kerja Sama Pengelolaan Bagian Wilayah Kerja untuk Peningkatan Produksi Minyak dan Gas Bumi, yang bertujuan untuk memaksimalkan potensi migas nasional yang belum tergarap optimal.

Direktur Jenderal Migas, Laode Sulaeman, memberikan apresiasi tinggi terhadap proaktivitas PT PHE dalam membuka kerja sama operasi dan teknologi pada struktur idle. "Kementerian ESDM mengapresiasi upaya aktif Pertamina untuk membuka kerja sama operasi dan teknologi pada struktur idle, dalam mendukung peningkatan produksi. Agar proses penawaran dan penetapan dapat dilakukan dengan cepat dan prudent sehingga produksi migas segera didapat dalam jangka pendek. Kita akan dukung penuh," ujar Laode dalam keterangan tertulisnya pada Jumat, 29 Mei 2026. Dukungan penuh ini diharapkan dapat mempercepat realisasi produksi migas dari sumber daya yang sudah ada.

Baca Juga :  Prabowo-Rosatom Jajaki Kerja Sama Energi Nuklir Damai Indonesia

PT PHE sendiri telah mempersiapkan sekitar 41 struktur migas idle untuk dikelola melalui KSOT. Dari jumlah tersebut, 22 struktur telah disosialisasikan dan diumumkan secara khusus pada ajang IPA Convex 2026. Struktur-struktur ini tersebar di berbagai wilayah operasional: 8 di Regional 1 (Sumatera), 4 di Regional 2 (Jawa), 7 di Regional 3 (Kalimantan), dan 3 di Regional 4 (Jawa Timur dan Indonesia Timur). Sisa struktur idle lainnya akan segera dibuka untuk proses kerja sama lebih lanjut.

Lebih lanjut, Laode Sulaeman menekankan pentingnya percepatan kerja sama tidak hanya untuk struktur idle, tetapi juga untuk sumur idle dan sumur masyarakat, sesuai dengan arahan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia. "Selain struktur idle, Pertamina juga agar terus lakukan upaya percepatan kerja sama operasi dan teknologi untuk sumur idle, dan upaya percepatan kerja sama produksi sumur minyak BUMD/Koperasi/UMKM. Kita akan dukung penuh, dan hal tersebut merupakan tindak lanjut Permen ESDM Nomor 14 tahun 2025 dalam rangka upaya peningkatan produksi jangka pendek," tegasnya. Komitmen ini menunjukkan keseriusan pemerintah dalam mengoptimalkan seluruh potensi migas nasional, baik yang berskala besar maupun yang dikelola oleh entitas lokal, demi ketahanan energi nasional.

Also Read

Tinggalkan komentar