
Gerakan tanam serentak ini dipusatkan di Kabupaten Ngawi, yang selama ini dikenal sebagai salah satu lumbung pangan utama di Jawa Timur. Dalam pelaksanaannya, Kementerian Pertanian melalui Direktorat Jenderal Tanaman Pangan bekerja sama erat dengan Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Target yang ditetapkan tidak main-main, yakni mencapai kenaikan LTT hingga 3,4 persen hanya dalam waktu satu hari, atau melonjak dua kali lipat dibandingkan dengan capaian harian sebelumnya. Kepala Balai Besar Peramalan Organisme Pengganggu Tumbuhan (BBPOPT), Yuris Tiyanto, menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar seremoni belaka, melainkan sebuah gerakan nyata yang harus memberikan dampak instan terhadap angka produksi di lapangan.

Data internal Kementerian Pertanian menunjukkan tren positif yang perlu dipertahankan, di mana luas tanam untuk periode Oktober 2025 hingga Maret 2026 telah mengalami kenaikan sebesar 9,7 persen. Selain itu, angka produksi beras pada periode yang sama juga tumbuh lebih dari 2 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Angka-angka ini menjadi fondasi kuat bagi Jawa Timur untuk terus memimpin sebagai penyokong utama kebutuhan beras nasional. Dengan mengusung tema spiritual dan agraris "Sawah Bersholawat Mendukung Swasembada Pangan Berkelanjutan", pemerintah optimistis bahwa sinergi antara doa dan kerja keras petani akan membuahkan hasil yang maksimal.
Untuk mencapai target ambisius tersebut, pemerintah mendorong pengoptimalan infrastruktur pertanian seperti irigasi dan sistem pompa air guna menghadapi kekeringan. Koordinasi lintas sektor diperkuat dengan melibatkan jajaran TNI, penyuluh pertanian, hingga kelompok tani di tingkat desa. Selain aspek mekanisasi dan pengairan, pengamanan produksi juga dilakukan melalui pemanfaatan teknologi digital mutakhir. Sistem SIFORTUNA yang dikembangkan oleh BBPOPT kini telah terintegrasi dalam dashboard Operation Room dan dipantau langsung oleh Kantor Staf Presiden (KSP). Teknologi ini memungkinkan deteksi dini terhadap potensi serangan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT), sehingga langkah pengendalian dapat dilakukan secara presisi sebelum terjadi gagal panen. Melalui kolaborasi teknologi, manajemen air yang tepat, dan perluasan lahan tanam, Jawa Timur diharapkan mampu tetap menjadi pilar utama swasembada pangan yang berkelanjutan di masa depan.











