Indonesia & S&P: Bahas Investasi dan Kesehatan Fiskal

Budi Santoso

Indonesia & S&P: Bahas Investasi dan Kesehatan Fiskal

Kementerian Investasi dan Hilirisasi bersama Badan Pengelola Investasi (BPI) Daya Anagata Nusantara (Danantara) menggelar pertemuan strategis dengan lembaga pemeringkat internasional terkemuka, S&P Global Ratings. Pertemuan ini merupakan bagian krusial dari proses penilaian kredit negara atau Sovereign Credit Rating (SCR) Indonesia, sebuah indikator penting bagi kepercayaan investor global. Dalam pertemuan tersebut, Chief Executive Officer (CEO) BPI Danantara, Rosan Roeslani, mempresentasikan perkembangan positif investasi domestik dan penanaman modal asing (Foreign Direct Investment/FDI) yang terus mengalir ke tanah air. Ia juga memberikan gambaran mendalam mengenai tata kelola Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di bawah naungan Danantara, menyoroti upaya-upaya transformasi yang dilakukan untuk meningkatkan efisiensi dan kontribusi terhadap perekonomian nasional.

Rosan Roeslani menekankan, "Kami menyampaikan perkembangan investasi domestik dan FDI, serta peran Danantara dalam memperkuat transformasi BUMN dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional." Ungkapan ini menegaskan komitmen pemerintah dalam menarik investasi dan mengoptimalkan potensi BUMN. Lebih lanjut, Rosan menegaskan kembali komitmen kuat pemerintah untuk terus menjaga momentum reformasi yang telah berjalan dan memperkuat ekosistem investasi di Indonesia. Ia meyakini bahwa langkah-langkah proaktif ini akan semakin memperkokoh kepercayaan dan optimisme pasar global terhadap prospek ekonomi Indonesia yang semakin cerah. "Pemerintah terus menjaga momentum reformasi dan penguatan ekosistem investasi untuk memperkokoh kepercayaan dan optimisme pasar global terhadap prospek ekonomi Indonesia," pungkasnya, menunjukkan keyakinan pada arah kebijakan ekonomi negara.

Baca Juga :  Haji Isam Borong Saham PACK Rp 936 Miliar, Kuasai 21,12%

Sebelumnya, Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa juga telah melaksanakan pertemuan serupa dengan S&P Global Ratings pada Rabu (3/6). Salah satu agenda utama dalam pertemuan tersebut adalah penegasan kembali komitmen pemerintah untuk menjaga defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tetap berada di bawah ambang batas 3% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Purbaya Yudhi Sadewa menjelaskan secara rinci berbagai strategi dan langkah konkret yang telah dan akan ditempuh oleh pemerintah untuk menjaga kesehatan fiskal negara. Strategi ini mencakup berbagai kebijakan untuk memastikan defisit APBN tetap terkendali, baik untuk tahun berjalan maupun tahun anggaran berikutnya.

"Kewajiban kita kan itu. Untuk respons, mereka akan diskusikan di sana dengan timnya. Jadi, dia hanya mencari informasi dan kita jelaskan semaksimal mungkin dari posisi kita. Utamanya keseriusan kita menjaga defisit di bawah 3%, dan kita jelaskan cara-cara tahun ini mau ke tahun depan, dan semua termasuk perbaikan kondisi ekonomi kita," ungkap Purbaya di Kompleks DPR RI, Jakarta, pada Kamis (4/6/2026). Pernyataan ini menggarisbawahi transparansi dan keseriusan pemerintah dalam mengelola keuangan negara serta upaya berkelanjutan untuk memperbaiki kondisi ekonomi secara keseluruhan. Pertemuan dengan S&P Global Ratings ini menjadi momentum penting untuk menyampaikan progres dan komitmen Indonesia kepada lembaga pemeringkat internasional, yang pada akhirnya akan berdampak pada persepsi investor terhadap stabilitas dan potensi ekonomi Indonesia.

Baca Juga :  LPS Perluas Jangkauan, Buka KPW Baru di Jakarta & Bangun Kantor Sendiri

Also Read

Tinggalkan komentar