Peringkat DIM: S&P & Moody’s Nilai Kuat, Ekonomi RI Tetap Stabil

Budi Santoso

Peringkat DIM: S&P & Moody's Nilai Kuat, Ekonomi RI Tetap Stabil

Praktisi pasar modal dan Co-founder PasarDana, Hans Kwee, memberikan pandangan optimistis terkait peringkat yang diberikan S&P Global dan Moody’s kepada Danantara Investment Management (DIM). Menurut Hans, peringkat investment grade yang diperoleh DIM, yaitu BBB dan A-2 dari S&P Global, serta Baa2 dari Moody’s, menunjukkan bahwa lembaga tersebut masih memiliki kapasitas finansial yang memadai untuk memenuhi kewajibannya. Penilaian ini, tegas Hans, tidak serta-merta mencerminkan memburuknya kondisi ekonomi Indonesia secara keseluruhan.

Perlu digarisbawahi bahwa outlook negatif yang diberikan Moody’s lebih banyak berkaitan dengan faktor tata kelola (governance) dan kepastian kebijakan, bukan pada fundamental ekonomi Indonesia. Hans merinci beberapa aspek yang menjadi perhatian kedua lembaga pemeringkat global tersebut. Aspek-aspek ini meliputi konsistensi komunikasi kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah, tata kelola badan usaha milik negara (BUMN), arah strategi investasi yang dijalankan oleh Danantara, serta bagaimana pengelolaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) ke depan akan dilakukan.

Hans menjelaskan, inti dari sorotan tersebut bukanlah kemampuan finansial Danantara saat ini, melainkan isu governance dan kepastian kebijakan. Moody’s dan S&P Global melihat adanya keterkaitan yang sangat kuat antara Danantara dan pemerintah. Oleh karena itu, risiko yang melekat pada kedua entitas tersebut juga dipersepsikan serupa. Penyelarasan peringkat DIM dengan Pemerintah Indonesia ini mencerminkan keyakinan bahwa negara akan memberikan dukungan apabila Danantara mengalami tekanan finansial.

Baca Juga :  Sudirman Said: Short-Termisme Akar Masalah Ketahanan Energi

Lebih lanjut, Hans menegaskan bahwa fundamental ekonomi Indonesia saat ini masih berada dalam jalur yang relatif kuat. Ia memberikan gambaran bahwa Indonesia tidak sedang berada dalam kondisi resesi dan pertumbuhan ekonominya masih terjaga dengan baik. Selain itu, tingkat inflasi juga dilaporkan masih terkendali, bahkan di tengah tingginya harga energi global. Posisi fiskal pemerintah pun dinilai tetap sehat dan stabil.

Bahkan, neraca perdagangan Indonesia masih mampu mencatatkan surplus, meskipun ada sedikit penyusutan yang disebabkan oleh peningkatan impor energi. Sektor komoditas juga terus memberikan kontribusi positif terhadap perekonomian nasional, terutama ketika harga komoditas global berada pada level yang menguntungkan. "Dari sisi fundamental, ekonomi Indonesia tidak seburuk yang dikhawatirkan pasar. Pertumbuhan masih terjaga, inflasi terkendali, dan kondisi fiskal relatif baik. Hal yang menjadi perhatian investor saat ini lebih kepada tata kelola dan konsistensi kebijakan," ujar Hans.

Menyikapi hal ini, Hans memberikan beberapa saran kepada pemerintah. Ia menyarankan agar pemerintah terus memperkuat komunikasi kebijakan, menjaga pengelolaan APBN agar tetap prudent dan hati-hati, serta memperjelas strategi investasi yang dijalankan oleh Danantara. Langkah-langkah ini sangat penting untuk mempertahankan dan meningkatkan kepercayaan para investor. Dengan demikian, peluang untuk perbaikan outlook di masa mendatang juga akan semakin terbuka lebar.

Also Read

Tinggalkan komentar