
NavaPark BSD City mencatat fenomena menarik: mayoritas pembeli rumah premium, bahkan yang memiliki kemampuan finansial untuk membeli tunai, justru memilih menggunakan fasilitas Kredit Pemilikan Rumah (KPR). Strategi ini bukan indikasi ketidakmampuan finansial, melainkan sebuah langkah cerdas dalam pengelolaan keuangan dan menjaga likuiditas. Head of Marketing & Business Development NavaPark, Wanto Ngali, mengungkapkan bahwa sekitar 60 persen pembeli hunian premium di kawasan tersebut memilih KPR. Keputusan ini didorong oleh kebutuhan menjaga arus kas, terutama bagi mereka yang memiliki usaha atau portofolio investasi besar. "Kami melihat banyak pembeli tetap membutuhkan cash flow untuk perusahaan atau bisnis yang mereka jalankan. Jadi bukan karena tidak mampu membeli secara tunai," tegas Wanto saat peluncuran Island Villa di NavaPark BSD City.
Fenomena ini bukan hanya terjadi pada segmen menengah, tetapi juga merambah ke kelompok ultra-high-net-worth individual (UHNWI). Meskipun memiliki aset yang signifikan, banyak konsumen kelas atas ini tetap memanfaatkan fasilitas pembiayaan dari perbankan. Wanto menjelaskan bahwa sebagian besar pembeli rumah premium di NavaPark adalah penghuni lama yang melakukan peningkatan kelas hunian seiring pertumbuhan bisnis dan aset mereka. "Untuk Villa Line yang sudah terjual habis, banyak pembelinya berasal dari klaster sebelumnya di NavaPark. Seiring perkembangan usaha mereka, kebutuhan terhadap rumah yang lebih besar juga meningkat," ujarnya.
Terbaru, NavaPark berkolaborasi dengan Hongkong Land meluncurkan proyek Island Villa yang menawarkan 35 unit, terdiri dari 30 unit tipe Premium dan lima unit tipe Signature. Harga yang ditawarkan sangat prestisius, berkisar antara Rp80 miliar hingga Rp140 miliar per unit. Meskipun baru dipasarkan secara terbatas, respons pasar terhadap Island Villa sangat positif. Dari 12 unit tahap awal yang ditawarkan, enam unit telah berhasil terjual, termasuk tiga unit tipe Signature yang merupakan produk dengan harga tertinggi di klaster tersebut.
Tren penggunaan KPR di segmen rumah premium ini menunjukkan pergeseran paradigma di kalangan pembeli kelas atas. Mereka kini semakin cerdas dalam mengelola aset dan likuiditas. Alih-alih menguras dana tunai untuk pembayaran properti secara keseluruhan, mereka memilih KPR sebagai instrumen untuk menjaga fleksibilitas finansial. Hal ini memungkinkan mereka untuk tetap menginvestasikan modal mereka di sektor lain yang berpotensi memberikan keuntungan lebih tinggi, sambil tetap memiliki hunian mewah idaman. Strategi ini membuktikan bahwa KPR bukan lagi sekadar fasilitas bagi mereka yang belum mampu, tetapi telah berevolusi menjadi alat manajemen keuangan yang canggih bagi para pebisnis dan investor sukses.











