
Karyawan mengemas paket makanan bergizi gratis (MBG) di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Pentadio Barat, Kabupaten Gorontalo, Gorontalo, Senin (23/2/2026). Penerima MBG mendapatkan dua kali paket dalam satu pekan berupa susu, buah, kacang, roti selama bulan Ramadhan dengan tetap memperhatikan kandungan gizi, higienitas dan keamanan pangan.
Badan Gizi Nasional (BGN) menghadapi peningkatan kebutuhan susu yang signifikan untuk mendukung Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Seiring dengan ekspansi jumlah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang beroperasi di berbagai wilayah, pasokan susu kini menjadi salah satu tantangan utama dalam pelaksanaan program prioritas ini. Gunalan, Pelaksana Tugas Deputi Bidang Promosi dan Kerja Sama BGN, mengungkapkan bahwa saat ini terdapat 29.670 SPPG atau dapur MBG yang telah aktif melayani lebih dari 63 juta penerima manfaat. Merujuk pada Surat Edaran Kepala BGN Nomor 10 Tahun 2026, setiap SPPG diwajibkan menyediakan susu atau minuman berbasis susu sebanyak dua kali dalam sepekan.
"Kebutuhan susu yang sangat besar ini kami juga agak kewalahan, rekan-rekan kami di lapangan, khususnya yang di dapur," ujar Gunalan dalam sesi konferensi pers Hari Susu Nusantara 2026 yang diselenggarakan di Kantor Kemenko Pangan, Jakarta, pada Selasa (2/6/2026). Ia menjelaskan bahwa ketika pasokan susu di pasar tidak mencukupi, pengelola dapur MBG berupaya mengatasinya dengan menggantinya menggunakan sumber protein alternatif lainnya. Langkah ini diambil untuk memastikan bahwa kebutuhan gizi para penerima manfaat tetap terpenuhi secara optimal, meskipun ada kendala pasokan susu.
Menjawab lonjakan permintaan susu yang dipicu oleh program pemerintah ini, Gunalan menekankan perlunya percepatan pengembangan peternakan sapi perah di Indonesia. Menurutnya, peran serta aktif dari masyarakat luas, Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), serta koperasi sangat krusial dalam upaya memperkuat produksi susu nasional. "Peternakan susu itu bisa dikembangkan lagi karena kebutuhannya sangat besar," tegasnya, menyoroti potensi ekonomi dan sosial dari sektor peternakan sapi perah.
Selain fokus pada peningkatan produksi, BGN juga secara aktif mendorong pembentukan budaya minum susu sejak usia dini di kalangan masyarakat, khususnya anak-anak. Upaya ini dilakukan melalui pendekatan edukatif yang dirancang untuk meningkatkan ketertarikan anak-anak terhadap konsumsi susu sebagai bagian integral dari pola makan sehat. Salah satu metode yang diterapkan adalah teknik nudging, yaitu mendorong anak untuk memilih makanan dan minuman sehat secara alami tanpa paksaan. Pendekatan ini diimplementasikan dengan menyajikan produk susu yang menarik secara visual, mudah diakses, dan senantiasa tersedia dalam lingkungan keseharian anak, sehingga diharapkan dapat membentuk kebiasaan positif yang berkelanjutan.











