AS Sita Rp17,88 T Aset Kripto Iran, Ekonomi Teheran Kritis

Budi Santoso

AS Sita Rp17,88 T Aset Kripto Iran, Ekonomi Teheran Kritis

Menteri Keuangan Amerika Serikat, Scott Bessent, mengumumkan keberhasilan Amerika Serikat dalam menyita aset kripto Iran senilai sekitar US$1 miliar atau setara dengan Rp17,88 triliun. Tindakan ini merupakan bagian dari kampanye yang disebut "Operation Economic Fury," yang bertujuan untuk menekan perekonomian Iran hingga mencapai titik krisis. Bessent menyatakan bahwa setelah kampanye militer dan operasi ekonomi yang intens selama lima setengah hingga enam minggu, pasokan finansial Iran telah terputus secara signifikan, membuat mereka berada di ambang batas kemampuan finansial.

Dalam pernyataannya yang dikutip dari FOX Business, Bessent merinci dampak buruk yang dialami oleh Iran. Tingkat inflasi di negara tersebut dilaporkan melonjak hingga 200%. Lebih mengkhawatirkan lagi, kemampuan militer Iran disebut berada dalam kondisi kritis karena masalah pembayaran gaji pasukan. Bessent mengungkapkan bahwa sekitar 40 hingga 50% pasukan Iran dilaporkan tidak menerima gaji, dan bahkan polisi tidak lagi melaporkan diri ke kantor polisi. Situasi ini diperparah dengan pembagian voucher makanan dan pemadaman internet yang dilakukan oleh pemerintah Iran.

Penyitaan aset kripto ini bukanlah satu-satunya langkah yang diambil oleh Amerika Serikat. Sejak tahun lalu, AS mengklaim telah berhasil merampas berbagai aset Iran lainnya, termasuk properti dan aset perbankan. Bessent menegaskan bahwa tindakan ini dilakukan bekerja sama dengan sekutu di Eropa, dengan tujuan untuk merebut kembali aset yang dianggap telah dicuri dari rakyat Iran. Kampanye ini menunjukkan komitmen AS untuk memberikan tekanan ekonomi yang maksimal terhadap Iran, dengan harapan dapat mengubah perilaku negara tersebut di kancah internasional.

Baca Juga :  Tol Bocimi KM 72 Longsor, Akses Normal Kembali Dini Hari

Analisis mendalam terhadap situasi ekonomi Iran menunjukkan kerentanan yang signifikan akibat sanksi dan tindakan ekonomi yang agresif. Lonjakan inflasi yang mencapai 200% menunjukkan bahwa daya beli masyarakat Iran telah terkikis parah, memaksa pemerintah untuk mengambil langkah-langkah drastis seperti pembagian voucher makanan. Ketidakmampuan membayar gaji pasukan dan aparat keamanan mengindikasikan krisis likuiditas yang mendalam, yang dapat mengancam stabilitas internal negara. Pemadaman internet juga dapat dilihat sebagai upaya pemerintah untuk mengendalikan narasi dan mencegah informasi mengenai krisis menyebar lebih luas, baik di dalam maupun di luar negeri.

Keberhasilan AS dalam menyita aset kripto dalam jumlah besar juga menyoroti semakin pentingnya aset digital dalam perekonomian global dan juga sebagai target potensial dalam sanksi ekonomi. AS tampaknya telah mengembangkan strategi yang komprehensif untuk memutus sumber pendanaan Iran, tidak hanya melalui jalur tradisional tetapi juga melalui aset digital yang mungkin lebih sulit dilacak dan disita. Kolaborasi dengan sekutu Eropa dalam menyita aset fisik seperti vila dan properti menunjukkan pendekatan multilateral yang terkoordinasi untuk meningkatkan efektivitas sanksi. Langkah-langkah ini secara kolektif bertujuan untuk mengisolasi Iran secara finansial dan memaksa mereka untuk mempertimbangkan kembali kebijakan luar negeri dan domestiknya.

Also Read

Tinggalkan komentar