Rupiah Tertekan, Ekonom Ingatkan Sinyal Krisis Baht 1997

Budi Santoso

Rupiah Tertekan, Ekonom Ingatkan Sinyal Krisis Baht 1997

Para ekonom menyuarakan keprihatinan mendalam atas terus melemahnya nilai tukar rupiah, meskipun Bank Indonesia (BI) telah gencar melakukan intervensi. Fenomena pelemahan ini dinilai sebagai indikasi adanya tekanan fundamental yang signifikan bagi perekonomian Indonesia, bahkan mengingatkan pada krisis keuangan Asia 1997 yang diawali oleh kejatuhan Baht Thailand.

Ekonom Yanuar Rizky menyoroti kondisi pasar obligasi Indonesia yang juga mengalami kesulitan di tengah pelemahan mata uang Garuda. Ia mengkritisi klaim pemerintah tentang stabilitas rupiah yang dinilainya tidak mencerminkan realitas di lapangan. Menurut Yanuar, tabungan dalam valuta asing di perbankan mengalami "perang bunga" karena bank berupaya mempertahankan nasabah dengan dana besar. Sejak Februari, suku bunga valas dilaporkan meningkat, terutama untuk nasabah prioritas.

Menyikapi situasi ini, BI telah memperketat kebijakan pembelian dolar AS. Ambang batas pembelian dolar per orang per bulan telah diturunkan dari 100 ribu menjadi 50 ribu dolar AS pada April 2026, dan direncanakan turun lagi menjadi 25 ribu dolar AS mulai Juni 2026. Bank juga dilaporkan gencar menawarkan Surat Berharga Negara (SBN) dalam valuta asing. Yanuar menekankan bahwa langkah-langkah ini tidak sepenuhnya terlihat di permukaan, namun tekanan terhadap rupiah sangat nyata sejak Januari.

Lebih lanjut, Yanuar mengemukakan adanya peningkatan transfer dana oleh residen ke luar negeri, tercermin dalam neraca pembayaran. Data dari Bright Institute menunjukkan bahwa pada kuartal I 2026, modal asing yang masuk ke Indonesia sebesar 4,2 juta dolar AS, sementara modal keluar oleh penduduk Indonesia mencapai 9,14 juta dolar AS. Hal ini menciptakan arus modal keluar bersih sebesar 4,93 juta dolar AS.

Baca Juga :  Ekspor SDA Satu Pintu Lewat DSI Mulai 1 Juni 2026

"Ini sinyal seperti tekanan Baht 1997 yang menarik DHE (Devisa Hasil Ekspor) pada saat kepercayaan terhadap Baht sudah outflow," ujar Yanuar. Ia menambahkan, fenomena ini perlu diamati lebih lanjut, apakah akan menjadi shock therapy atau justru memicu guncangan yang lebih besar.

Sebagai gambaran, krisis Baht 1997 merupakan awal dari krisis keuangan Asia yang dipicu oleh spekulasi terhadap mata uang Thailand. Sebelum krisis, ekonomi Thailand tampak kuat dengan pertumbuhan tinggi dan arus investasi asing yang deras. Pemerintah Thailand mempertahankan nilai tukar Baht terhadap Dolar AS secara relatif tetap, yang mendorong bank dan perusahaan untuk banyak berutang dalam Dolar AS. Sektor properti dan saham mengalami booming, namun defisit transaksi berjalan melebar akibat tingginya impor dan investasi.

Masalah mulai muncul pada pertengahan 1996-1997 ketika ekspor melambat, sektor properti lesu, utang luar negeri swasta membengkak, dan banyak proyek tidak memberikan imbal hasil yang memadai. Investor mulai meragukan kemampuan Thailand mempertahankan nilai tukar Baht. Kepercayaan yang goyah memicu spekulan untuk menjual Baht dan membeli Dolar AS. Meskipun Bank Sentral Thailand berusaha mempertahankan kurs dengan menjual cadangan devisa, kemampuan mereka tidak sebanding dengan kekuatan pasar, sehingga cadangan devisa terkuras. Akhirnya, pada Juni 1997, Thailand terpaksa membiarkan Baht anjlok. Sebelum krisis, 1 Baht bernilai sekitar 25 per Dolar AS, namun setelah krisis, nilainya mencapai 50 Baht per Dolar AS, melemah hampir separuh. Kejatuhan Baht sangat berbahaya karena banyak perusahaan Thailand memiliki utang dalam Dolar AS.

Baca Juga :  Prabowo Atur Ekspor SDA: Pengusaha Tambang Harap Keseimbangan

Also Read

Tinggalkan komentar