Rupiah Terancam Jebol Rp18.000/USD, Analis Khawatir Faktor Struktural

Budi Santoso

Rupiah Terancam Jebol Rp18.000/USD, Analis Khawatir Faktor Struktural

Nilai tukar rupiah diprediksi terus melemah, berpotensi menembus Rp18.000 per dolar AS pekan depan, bahkan bisa menyentuh Rp18.200 jika angka tersebut dilewati. Analis komoditas dan mata uang, Ibrahim Assuaibi, menyatakan pelemahan ini bukan hanya akibat faktor teknikal atau kebijakan Bank Indonesia, melainkan masalah struktural perekonomian nasional. Salah satu sorotan utama adalah defisit neraca transaksi berjalan yang masih bergantung pada impor energi, khususnya minyak mentah. Ibrahim menjelaskan, saat harga minyak mentah di APBN dipatok US$70 per barel dengan asumsi rupiah Rp16.500, kini rupiah sudah di kisaran Rp17.900 sementara harga minyak mentah melonjak di atas US$90. Kenaikan harga minyak ini memaksa pemerintah mengeluarkan dolar lebih besar, terutama karena 85% impor minyak mentah disubsidi, yang menjadi beban berat untuk menutupi defisit.

Selain itu, pasar modal juga berkontribusi pada pelemahan rupiah. Banyak perusahaan asing di Indonesia wajib membagikan dividen atau keuntungan perusahaan kepada pemegang saham. Hal ini meningkatkan permintaan dolar di dalam negeri, memperparah pelemahan rupiah. "Sudah kita kekurangan dolar, kemudian beban dividen yang harus dibagikan terhadap para investor, terutama investor asing di perusahaan-perusahaan yang listing di bursa, di pasar modal. Nah ini membuat satu kegaduhan tersendiri," ujar Ibrahim.

Dari pasar logam mulia, harga emas dunia bergerak fluktuatif di tengah ketidakpastian global. Menguatnya dolar terhadap rupiah mendorong investor memindahkan aset dari emas ke dolar untuk memanfaatkan momentum pelemahan mata uang Garuda. Dana yang tadinya diinvestasikan di logam mulia kini dialihkan ke indeks dolar karena potensi keuntungan jangka pendek yang lebih besar.

Baca Juga :  Dukung Literasi Muda, BSI Hadirkan Reksa Dana Syariah Hanya Rp10 Ribu

Kebijakan terbaru pemerintah terkait rencana ekspor satu pintu melalui BUMN baru, Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI), juga menimbulkan keraguan investor asing terhadap kepastian regulasi di Indonesia, mendorong mereka beralih ke negara lain. Ibrahim mengakui kebijakan ekspor satu pintu ini berpotensi baik untuk mencegah kebocoran ekspor ilegal, namun di tengah kondisi ekonomi yang belum stabil, kebijakan ini justru menimbulkan kegaduhan. Ini menjadi beban tersendiri bagi perusahaan tambang yang memiliki kontrak jangka pendek hingga panjang dengan perusahaan luar negeri.

Direktur Eksekutif CELIOS, Bhima Yudhistira, senada dengan Ibrahim, memprediksi rupiah akan terus melemah hingga menembus Rp18.000. Ia bahkan khawatir jika angka tersebut dilewati, pelemahan bisa berlanjut hingga Rp19.000 karena batas psikologis tersebut sudah tertembus. Bhima menilai sentimen negatif investor asing terhadap kebijakan pemerintah, seperti rencana ekspor satu pintu DSI, menjadi pendorong utama. Meskipun langkah ini bertujuan menekan praktik transfer pricing dan under invoicing, peluncurannya yang mendadak tanpa sosialisasi kepada pelaku usaha menimbulkan opini tentang ketidakpastian aturan, sehingga menurunkan minat investasi.

Bhima juga menyoroti pelaku pasar yang mencermati kondisi fiskal domestik dan efektivitas program pemerintah. Kekhawatiran melebar defisit APBN akibat beban subsidi energi dan program-program populis dengan anggaran besar, seperti MBG dan Kopdes Merah Putih, yang efektivitas ekonominya masih diragukan, semakin mempengaruhi persepsi investor terhadap stabilitas ekonomi nasional.

Baca Juga :  Harga Emas Antam Anjlok Rp 25.000, Jual Rugi Siap Kena PPN 1,5%

Also Read

Tinggalkan komentar