Rupiah Melemah Tipis ke Rp 17.749 per Dolar AS di Selasa Pagi

Budi Santoso

Rupiah Melemah Tipis ke Rp 17.749 per Dolar AS di Selasa Pagi

Nilai tukar rupiah pada Selasa pagi tercatat melemah 5 poin atau 0,03 persen, diperdagangkan di level Rp 17.749 per dolar AS. Posisi ini sedikit terkoreksi dari penutupan sebelumnya yang berada di angka Rp 17.744 per dolar AS. Pelemahan ini, menurut Muhammad Amru Syifa dari Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX), disebabkan oleh beberapa faktor global dan domestik yang membebani mata uang Garuda.

Secara global, permintaan terhadap aset safe haven meningkat seiring dengan meningkatnya ketidakpastian geopolitik. Konflik dan negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran menjadi salah satu pemicu sentimen ini. Selain itu, ekspektasi pasar mengenai kebijakan suku bunga tinggi Amerika Serikat yang diperkirakan akan bertahan lebih lama juga turut memperkuat dolar AS. Indeks dolar AS (DXY) pun terpantau naik ke level 99,10, mengindikasikan penguatan mata uang Paman Sam tersebut. Amru memprediksi rupiah akan bergerak fluktuatif dalam rentang Rp 17.750 hingga Rp 17.800 per dolar AS, dengan kecenderungan masih berada di bawah tekanan. Kenaikan yield obligasi pemerintah AS serta tingginya volatilitas pasar global juga memberikan tekanan tambahan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Faktor lain yang berkontribusi terhadap penguatan dolar AS adalah keyakinan pasar bahwa Federal Reserve belum akan menurunkan suku bunga acuannya dalam waktu dekat. Hal ini didasari oleh masih adanya tekanan inflasi di Amerika Serikat yang belum sepenuhnya mereda. Akibatnya, investor cenderung menarik dananya dari aset-aset berisiko dan mengalokasikannya ke dolar AS yang dianggap lebih aman.

Baca Juga :  IHSG Menguat Tipis, Saham Prajogo Pangestu Berguguran

Dari sisi domestik, ketahanan sektor eksternal Indonesia menunjukkan pelemahan. Hal ini tercermin dari defisit transaksi berjalan yang dilaporkan melebar menjadi 4,01 miliar dolar AS pada kuartal I 2026. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan defisit sebesar 0,15 miliar dolar AS pada periode yang sama tahun sebelumnya. Pelemahan ini terjadi seiring dengan menyusutnya surplus perdagangan Indonesia menjadi 7,98 miliar dolar AS, dari sebelumnya 13,07 miliar dolar AS. Perlambatan ekonomi global serta tingginya kebutuhan impor energi dan barang modal turut mendorong peningkatan permintaan dolar AS di pasar domestik, yang pada akhirnya membebani nilai tukar rupiah.

Also Read

Tinggalkan komentar