
Harga minyak mentah dunia mengalami tren penurunan tajam pada perdagangan Selasa (26/5), dipicu oleh kabar positif mengenai potensi terbukanya kembali Selat Hormuz. Laporan menyebutkan bahwa Amerika Serikat (AS) dan Iran tengah dalam pembicaraan intensif untuk mencapai kesepakatan damai, yang diperkirakan akan membuka kembali jalur pelayaran vital tersebut sekitar 30 hari setelah kesepakatan tercapai. Penurunan harga ini menandai kelanjutan dari tren negatif yang telah terlihat pada hari sebelumnya, memberikan sentimen positif bagi pasar energi global.
Menurut data dari Reuters, harga minyak mentah berjangka AS West Texas Intermediate (WTI) tercatat turun signifikan sebesar US$ 5,90 atau 6,1%, mencapai US$ 90,73 per barel. Penurunan ini merupakan kelanjutan dari koreksi yang lebih dalam pada hari sebelumnya, di mana harga minyak mentah Brent juga mengalami penurunan tajam sebesar US$ 7,24, ditutup pada US$ 96,30 per barel. Fluktuasi harga yang drastis ini mencerminkan sensitivitas pasar terhadap perkembangan geopolitik yang melibatkan dua negara produsen minyak besar tersebut.
Perkembangan terbaru ini merupakan hasil dari negosiasi yang sedang berlangsung di Doha, Qatar. Negosiator utama Iran dan Menteri Luar Negerinya dikabarkan sedang melakukan pembicaraan dengan Perdana Menteri Qatar. Fokus utama negosiasi ini adalah untuk mencapai kesepakatan damai yang dapat mengakhiri konflik yang telah berlangsung selama tiga bulan antara kedua negara. Potensi dibukanya kembali Selat Hormuz menjadi kunci utama yang mendorong optimisme di pasar minyak. Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran yang sangat krusial bagi pasokan minyak mentah global, dan setiap ancaman terhadap kelancaran lalu lintas di sana selalu berdampak besar pada harga minyak dunia.
Pemerintah Iran sendiri telah mengakui adanya kemajuan dalam berbagai isu yang dibahas bersama AS dalam upaya mencapai kesepakatan untuk mengakhiri perang. Meskipun demikian, Iran juga memberikan catatan bahwa kesepakatan final belum akan tercapai dalam waktu dekat. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menanggapi laporan media Barat yang mengindikasikan bahwa Iran dan AS semakin dekat untuk menandatangani kesepakatan yang mengatur perpanjangan gencatan senjata dan pembukaan kembali Selat Hormuz. Baghaei menyatakan, "Memang benar bahwa kami telah mencapai kesimpulan pada sebagian besar isu yang sedang dibahas, tetapi untuk mengatakan bahwa ini berarti penandatanganan perjanjian sudah dekat, tidak ada yang dapat menyampaikan klaim semacam itu." Pernyataan ini menunjukkan bahwa meskipun ada kemajuan, masih ada beberapa detail yang perlu diselesaikan sebelum kesepakatan dapat ditandatangani.
Implikasi dari potensi kesepakatan ini sangat luas. Pembukaan kembali Selat Hormuz akan meningkatkan pasokan minyak mentah global dan meredakan kekhawatiran tentang gangguan pasokan. Hal ini berpotensi menurunkan harga minyak lebih lanjut, memberikan keuntungan bagi konsumen dan negara-negara pengimpor minyak. Namun, perkembangan ini juga perlu dipantau dengan seksama, mengingat kompleksitas hubungan antara AS dan Iran, serta potensi munculnya hambatan tak terduga dalam negosiasi. Pasar energi global akan terus mencermati setiap perkembangan terbaru dari upaya diplomatik ini.











