Swasembada Pangan Tercapai Meski Sawah Menyusut: Strategi Jitu Kementan

Budi Santoso

Swasembada Pangan Tercapai Meski Sawah Menyusut: Strategi Jitu Kementan

Indonesia diproyeksikan tetap mampu mencapai swasembada pangan meskipun terjadi penyusutan luas baku sawah (LBS) secara berkelanjutan. Wakil Menteri Pertanian, Sudaryono, menegaskan bahwa strategi utama untuk mewujudkan hal ini adalah melalui optimalisasi lahan yang ada dan peningkatan frekuensi tanam, bukan dengan membuka lahan sawah baru. Sejak awal masa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto pada akhir tahun 2024, pemerintah telah memprioritaskan peningkatan produksi pertanian dengan fokus pada intensifikasi, salah satunya dengan menggencarkan penanaman lebih sering dalam setahun untuk mendongkrak volume panen.

Sudaryono menanggapi keraguan sebagian pihak yang menganggap swasembada pangan mustahil tercapai akibat menyusutnya luas sawah. Ia berargumen bahwa logika tersebut tidak sepenuhnya tepat, mengingat adanya peningkatan produktivitas lahan yang signifikan. "Rahasianya adalah menanam lebih banyak, maka panen lebih banyak," ujar Sudaryono dalam acara Konferensi Nasional Pengembangan Ekonomi Daerah (KNPED) Tahun 2026 di Jakarta, Senin (25/5/2026). Ia mengutip kekhawatiran beberapa pakar yang mempertanyakan bagaimana swasembada pangan bisa tercapai ketika luas sawah terus berkurang dibandingkan era sebelumnya.

Data menunjukkan bahwa luas lahan sawah di Indonesia mengalami penyusutan sebesar 79.607 hektar dalam periode 2019-2024, dari 7,46 juta hektare menjadi 7,38 juta hektare. Namun, ironisnya, stok beras di Bulog justru mencatat rekor tertinggi sepanjang sejarah, mencapai 5,39 juta ton. Hal ini membuktikan bahwa efisiensi dan produktivitas telah meningkat pesat.

Baca Juga :  Pembangunan Sekolah Rakyat Dipercepat, Akses Pendidikan Merata

Selain fokus pada peningkatan produktivitas, pemerintah juga secara masif meningkatkan frekuensi tanam per tahun. Banyak lahan tadah hujan yang sebelumnya hanya bisa ditanami sekali saat musim penghujan, kini dapat ditanami sepanjang tahun berkat intervensi pemerintah. Program seperti pompanisasi, pipanisasi, perbaikan irigasi, dan pengeboran air tanah dioptimalkan untuk memastikan pasokan air yang stabil. Kementerian Pertanian telah mendistribusikan sekitar 70 ribu pompa air ke berbagai daerah, dan jumlah ini akan terus ditambah untuk mengantisipasi ancaman fenomena El Nino. "Untuk memastikan sawah yang tadinya nanam sekali, jadi nanam lebih dari 1 kali. Itu lahan tadah hujan. Kalau lahan rawa, itu kalau musim kemarau airnya susut, ditanami padi. Nah ini contohnya, ada pompa, jadi ada sungai, di atasnya lahan tuh nggak ada air, maka kita pompa," jelas Sudaryono.

Di sisi lain, pemerintah juga berkomitmen untuk memperketat perlindungan lahan pertanian melalui kebijakan sawah abadi guna menekan alih fungsi lahan yang tidak terkendali. Sudaryono menegaskan bahwa pemerintah akan memastikan lahan sawah yang ada tidak beralih fungsi. Ia menambahkan pandangannya bahwa sektor pertanian sebenarnya merupakan sektor ekonomi yang paling mudah dijalankan oleh masyarakat. Hal ini dikarenakan pertanian tidak membutuhkan teknologi yang terlalu rumit maupun keahlian khusus. "Intinya pertanian ini adalah satu kegiatan ekonomi yang paling simple, dan tidak membutuhkan sophisticated, sesuatu keahlian yang sulit. Semua orang bisa mengerjakan, hanya tinggal mau atau tidak. Tidak butuh keahlian khusus, keahlian kimia lah, keahlian industri, termasuk teknik, mesin, nggak perlu. Dan semua orang bisa mengerjakan," pungkasnya.

Baca Juga :  Penduduk Indonesia Ramai Migrasi Keluar Negeri, BPS Catat Angka Minus

Also Read

Tinggalkan komentar