27 Negara Cari Dana Darurat Bank Dunia untuk Atasi Krisis Global

Budi Santoso

27 Negara Cari Dana Darurat Bank Dunia untuk Atasi Krisis Global

Sebanyak 27 negara dilaporkan tengah berupaya mengakses dana darurat dari Bank Dunia menggunakan instrumen krisis baru. Upaya ini muncul di tengah gejolak global yang dipicu oleh konflik Timur Tengah, yang telah merusak rantai pasok dan mengganggu pasar energi. Dokumen internal Bank Dunia yang diperoleh Reuters, dikutip pada Minggu (24/5/2026), mengungkapkan bahwa tiga negara telah menyetujui penggunaan instrumen krisis ini, sementara negara-negara lain masih dalam proses finalisasi.

Meskipun dokumen tersebut tidak merinci nama negara mana saja yang mengajukan permohonan atau berapa total dana yang diminta, laporan tersebut menyoroti dampak luas dari krisis ini, terutama bagi negara-negara berkembang di Afrika. Perang dan dampaknya terhadap harga energi telah menciptakan kesulitan ekonomi yang signifikan, mengancam stabilitas dan pembangunan di berbagai wilayah.

Beberapa negara secara terbuka telah mengkonfirmasi pencarian bantuan finansial darurat dari Bank Dunia. Pejabat dari Kenya dan Irak, misalnya, telah menyatakan bahwa mereka mengajukan permohonan dana untuk mengatasi dampak langsung dari perang. Di Kenya, dana tersebut dialokasikan untuk meredam lonjakan harga bahan bakar yang membebani masyarakat. Sementara itu, Irak membutuhkan dukungan untuk mengatasi penurunan pendapatan ekspor minyak akibat terganggunya rantai pasok global.

Presiden Bank Dunia, Ajay Banga, sebelumnya telah mengumumkan kesiapan lembaganya untuk menyediakan perangkat krisis. Ia memperkirakan bahwa pembiayaan darurat yang dapat dimanfaatkan oleh banyak negara ini mencapai kisaran US$ 20-25 miliar. Bank Dunia juga berencana untuk mengorientasikan kembali sebagian dari portofolionya guna meningkatkan total dana bantuan menjadi US$ 60 miliar dalam enam bulan ke depan. Lebih lanjut, perubahan jangka panjang yang strategis dapat dilakukan untuk meningkatkan total bantuan menjadi sekitar US$ 100 miliar, menunjukkan komitmen Bank Dunia dalam merespons tantangan ekonomi global yang mendesak. Instrumen krisis ini dirancang untuk memberikan respons cepat dan efektif bagi negara-negara yang paling terdampak oleh guncangan ekonomi global, memastikan bahwa mereka memiliki sumber daya yang memadai untuk mengatasi kesulitan dan memulihkan stabilitas ekonomi mereka.

Baca Juga :  PLN Transformasi, Perkuat Sistem Kelistrikan Nasional

Also Read

Tinggalkan komentar