
Direktur Utama PT Bank Syariah Indonesia (BSI) Tbk, Anggoro Eko Cahyo, menegaskan komitmen BSI dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional melalui penyaluran kredit kepada Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Namun, penyaluran kredit ini tidak dilakukan secara sembarangan. BSI menerapkan prinsip selektivitas yang ketat untuk memastikan bahwa kredit yang diberikan tidak hanya berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi jangka pendek, tetapi juga bersifat berkelanjutan. Fokus utama BSI adalah membiayai UMKM yang memiliki prinsip-prinsip keberlanjutan dalam operasional bisnisnya.
"UMKM yang akan kita biayai adalah UMKM-UMKM yang memang punya prinsip-prinsip berkelanjutan," ungkap Anggoro dalam acara Jogja Financial Festival pada Sabtu, 23 Mei 2026. Pernyataan ini menggarisbawahi strategi BSI yang lebih mendalam dalam mendukung UMKM, tidak hanya sekadar memberikan modal, tetapi juga membina UMKM yang memiliki visi jangka panjang dan dampak positif bagi lingkungan serta sosial.
Prinsip keberlanjutan yang diusung BSI ini selaras sepenuhnya dengan konsep ekonomi syariah. Ekonomi syariah tidak hanya menekankan pada pencapaian keuntungan finansial, tetapi juga mengedepankan keseimbangan sosial-ekonomi. Hal ini berarti bahwa setiap aktivitas ekonomi harus mempertimbangkan dampaknya terhadap masyarakat dan lingkungan, menciptakan nilai tambah yang lebih luas.
Lebih lanjut, Anggoro menjelaskan bahwa BSI mengedepankan pendekatan berbasis ekosistem dalam menjalankan bisnisnya. Sebagai bank syariah, BSI secara strategis memfokuskan diri untuk masuk dan memperkuat ekosistem syariah atau yang disebut sebagai Islamic ecosystem. Ekosistem ini mencakup berbagai sektor yang memiliki potensi besar dan kaitan erat dengan nilai-nilai syariah, seperti masjid, pesantren, sekolah Islam, industri halal lifestyle, serta sektor perjalanan ibadah haji dan umrah.
Potensi bisnis dalam ekosistem syariah ini, menurut Anggoro, masih sangat besar dan belum tergarap secara optimal. Ia memberikan contoh konkret mengenai potensi pasar di sektor haji dan umrah. Tercatat, jumlah jamaah haji Indonesia mencapai sekitar 200 ribu orang per tahun, sementara jamaah umrah menembus angka 2 juta orang per tahun. Angka-angka ini menunjukkan besarnya peluang pasar yang dapat dimanfaatkan oleh BSI untuk menyalurkan produk dan layanannya.
"Kita melihat bahwa lifestyle kita, halal lifestyle kita, fashion kita cukup dominan dan kita yakini yang sekarang ini potensinya Rp 5.000 triliun, kita rasa bisa lebih besar kalau memang semua mendorong ke arah potensi halal ecosystem," terangnya. Anggoro optimis bahwa dengan mendorong pengembangan halal ecosystem secara lebih masif, potensi ekonomi syariah di Indonesia dapat terus berkembang dan memberikan kontribusi yang signifikan bagi perekonomian nasional. Pendekatan ekosistem ini memungkinkan BSI untuk tidak hanya melayani nasabah individu, tetapi juga pelaku usaha di berbagai lini dalam rantai nilai syariah, menciptakan sinergi yang kuat dan berkelanjutan.











