
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menunjukkan penguatan pada pembukaan perdagangan Kamis, 21 Mei 2026, meninggalkan level terlemahnya yang sempat menyentuh kisaran Rp 17.700 per dolar AS. Data Bloomberg mencatat rupiah diperdagangkan pada level Rp 17.651, mengindikasikan pelemahan tipis dolar AS sebesar 2 poin atau 0,01%. Penguatan ini terjadi setelah sehari sebelumnya, dolar AS sempat mencapai rekor tertinggi sepanjang sejarah di Rp 17.721.
Langkah Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan (BI Rate) menjadi 5,25% menjadi salah satu faktor utama di balik penguatan rupiah ini. Keputusan strategis tersebut diambil dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI yang diselenggarakan pada 19-20 Mei 2026. Gubernur BI, Perry Warjiyo, menjelaskan bahwa kenaikan BI Rate sebesar 50 basis poin ini merupakan bagian dari upaya lanjutan untuk memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah. Selain itu, suku bunga deposito juga dinaikkan menjadi 4,25% dan suku bunga lending facility menjadi 6%.
Menurut Perry Warjiyo, kenaikan suku bunga ini merupakan respons terhadap tingginya gejolak global yang dipicu oleh eskalasi konflik di Timur Tengah. Dampak dari ketidakpastian geopolitik global tersebut berpotensi memberikan tekanan pada nilai tukar rupiah. Dengan menaikkan suku bunga acuan, BI berharap dapat menarik minat investor untuk menempatkan dananya di instrumen keuangan Indonesia, sehingga meningkatkan permintaan terhadap rupiah dan menstabilkan nilainya.
Selain untuk menjaga stabilitas nilai tukar, kenaikan BI Rate juga merupakan langkah antisipatif (pre-emptive) untuk mengendalikan inflasi di tahun 2026 dan 2027. BI menargetkan inflasi tetap berada pada kisaran 2,5% plus minus 1%, sesuai dengan yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Inflasi yang terkendali akan menjaga daya beli masyarakat dan memberikan kepastian bagi pelaku usaha. Kenaikan suku bunga yang agresif ini mencerminkan keseriusan BI dalam menjaga fundamental ekonomi Indonesia di tengah ketidakpastian global yang meningkat. Penguatan rupiah yang terjadi pada perdagangan pagi ini menjadi indikasi awal keberhasilan langkah-langkah kebijakan yang diambil oleh Bank Indonesia. Investor tampaknya memberikan respons positif terhadap upaya BI dalam menstabilkan kondisi ekonomi makro.











